Showing posts with label haid. Show all posts
Showing posts with label haid. Show all posts

Friday, November 23, 2012

Hukum Wanita Haid Dan Nifas Membaca Al-Qur'an Dengan Menyentuh Mushaf Tanpa Sarung Tangan

*MH - Majelis Hadits*

Masalah 221: HUKUM WANITA HAIDH DAN NIFAS MEMBACA AL-QURAN DENGAN MENYENTUH MUSHAF TANPA SARUNG TANGAN


Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustd Apkh wanita haid atw nifas,  d perbolehkan membaca Al Qur'an? Krn ad Чǝлƍ mengatakan boleh membacanya tp tdk boleh menyentuhnya atw apabila ingin menyentuh hrs menggunakan sarung tangan, adkah dalil Чǝлƍ shahih ttg hal ini? جَزَاك اللّهُ خَيْرًا  ats bantuannya
Krn ana prnh membaca sebuah artikel, blh membacanya tp tdk ad larangan utk menyentuhnya, mhn jwbannya Ustd

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Dlm masalah hukum wanita haidh membaca Al-Quran dengan memegang mushaf tlh trjadi perbedaan pndapat di kalangan para ulama. Ada yg melarang n ada pula yg membolehkan.

Akan tetapi pendapat yg nampak rojih (kuat n benar) adalah pndpt yg MEMBOLEHKAN wanita haidh n nifas utk membaca Al-Quran dengan menyentuh Mushaf.

Alasan mereka, bahwa dalil syar'I yg dijadikan landasan hukum oleh mereka yg melarangnya tidaklah kuat. Diantara dalil2 tsb ialah:
Firman Allah: (La yamassuhu illa al-Muthohharuun) artinya : "Al-Quran ini tidaklah disentuh kecuali oleh Al-Muthohharuun." Mereka menafsirkannya dengan "orang2 yg suci". Penafsiran ini keliru, krn yg dimaksud Al-Muthohharuun di sini adalah para malaikat yg suci dari dosa n maksiat. Bukan manusia yg suci.

Kemudian hadits yg dijadikan landasan hukum oleh pndpt para ulama yg melarangnya pula ialah: (La yamassu al-Qurana illa thohirun) artinya: "Tidak boleh menyentuh (mushaf) Al-Quran kecuali orang yg suci (dari hadats besar / kecil, pent)."
Akan tetapi derajat hadits ini DHO'IF (lemah). Sehingga dengan demikian, hadits ini tidak dapat dijadikan landasan hukum utk melarang wanita haidh n nifas membaca Al-Quran dengan menyentuh mushaf.
Kesimpulannya, wanita haidh n nifas BOLEH baca Al-Quran dengan menyentuh Mushaf. Krn tidak ada dalil syar'I dari ayat al-Quran maupun hadits shohih yg melarangnya.

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg bermanfaat. Wallahu a'lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

Benarkah Wanita Haid Pada 10 Malam Terakhir Tidak Mendapatkan Keutamaan Malam Lailatul Qodar?

*MH - Majelis Hadits*

Masalah 217: BENARKAH WANITA HAIDH PADA 10 MALAM TERAKHIR TIDAK MENDAPATKAN KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QODAR?

Tanya:
 ‎‎​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ   ‎‎​
Ustad jika seorang wanita قَدَرَ اللّهُ malam 10 trakhirnya dr bulan Ramadhan Haid, apakah juga bisa mendapatkan keutamaan 10 mlm terakhir dan malam lailatulqodar? krn katanya amalan(puasa)tergantung penutupnya  sedangkan wanita tsb haid جَزَاكَ اللّهُ  خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Ibu I.. yg smg dirahmati Allah,
Iya benar, wanita yg sedang haidh jg bisa mendapatkan keutamaan 10 malam terakhir dr bulan Ramadhan n malam Lailatul Qodar jika pd waktu2 tsb ia beribadah kpd Allah dengan ikhlas n sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam serta mengharapkan pahala dari Allah atas ibadah2 yg dilakukannya, seperti membaca Al-Qur'an baik dengan hafalan ataupun memegang mushaf, berdzikir n berdoa kpd Allah, beristighfar n bersholawat kpd Nabi, bersedekah, dsb. Keutamaan tsb akan ia peroleh baik dengan melakukan i'tikaf di dlm masjid maupun menetap di dlm rumahnya.

Diantara keutamaan2 yg akan diperolehnya ialah:
1) Ia akan meraih keagungan beribadah pd malam Lailatul Qodar yg mana lbh baik daripada 1000 (seribu) bulan.

2) Dosa2nya yg tlh lalu diampuni Allah. Sbgmn sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (man qooma lailatal qodri imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbihi) artinya: "Barangsiapa melaksanakan ibadah pd malam lailatul qodar karena keimanan (kpd Allah) n berharap pahala maka dosa2nya yg tlh lalu akan diampuni Allah."

Adapun ibadah2 yg dilarang bagi wanita haidh hanyalah sholat, puasa n thowaf di sekeliling ka'bah. Hal ini sbgmn sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (alaisa idza hadhot lam tusholli walam tashum?) Artinya: "bukankah wanita itu apabila haidh ia tidak sholat n tidak puasa."

Dan jg berdasarkan sabda beliau kpd Aisyah radhiyallahu anha ktika mengalami haidh dlm perjajalan haji: (if'ali ma yaf'aluhu al-haaju ghoiro alla tathuufi bil bait) artinya: "Lakukanlah apa sj yg dilakukan oleh orang yg sedang menunaikan manasik haji, hanya sj engkau dilarang thowaf di sekeliling ka'bah."

Kesimpulannya, wanita haidh pun bisa mendapatkan keutamaan n pahala yg besar pada 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan n malam Lailatul qodar.

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq

Friday, July 6, 2012

Hadits2 Palsu & Bathil ttg Wanita Haid

*Mamoadi*

HADITS-HADITS PALSU DAN BATIL TENTANG KEUTAMAAN WANITA HAIDH
Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

Akhir-akhir ini telah beredar di internet, atau melalui sms, email dan BM riwayat-riwayat yang cukup banyak yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan besar bagi wanita muslimah yang mengalami haidh dan amalan-amalan yang dilakukannya pada saat itu.

Di antara keutamaan-keutamaannya yang disebutkan adalah sebagai berikut:
1.Allah mengampuni semua dosa besar dan kecil yang pernah dilakukan oleh wanita yang haidh.
2.Allah tidak akan mencatat kesalahan-kesalahan wanita yang sedang haidh hingga tiba masa haidh berikutnya.
3.Allah memberikan kepada wanita yang sedang haidh pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid.
4.Allah akan membangunkan sebuah kota di dalam Surga bagi wanita yang haidh.
5.Allah akan memberikan cahaya kepada wanita yang haidh sebanyak rambut yang ada di kepala dan badannya.
6.Jika wanita yang sedang haidh itu mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.
7.Allah akan mencatat baginya pembebasan dari api neraka.
8.Allah akan memberikan kepadanya jaminan keamaan dari azab (siksaan-Nya).
9.Dan lain sebagainya.
Namun sayangnya riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan yang agung tersebut tidak ada yang benar datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan itu semua dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta dan batil oleh sebagian orang.

Berikut ini akan saya sebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan hal ini beserta terjemahannya.
HADITS PERTAMA:
(Teks asli dalam bahasa Arab bisa dibaca di: http://abufawaz.wordpress.com/ )
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang wanita mandi setelah berakhir masa haidnya, lalu ia melaksanakan sholat dua roka’at dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali pada setiap roka’atnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa besar maupun kecil yang pernah diperbuatnya, dan kesalahan-kesalahannya tidak akan dicatat (oleh Allah) hingga datang masa haidh berikutnya, dan Allah akan memberinya pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid, dan akan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam Surga, serta Allah akan memberinya cahaya sejumlah rambut yang ada di kepalanya. Dan jika ia mati karena haidnya, maka ia mati dalam keadaan syahid.”

HADITS KEDUA:
(Teks asli dalam bahasa Arab bisa dibaca di: http://abufawaz.wordpress.com/ )
Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Tidaklah seorang wanita mengalami
haidh melainkan haidnya itu akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Dan jika ia mengucapkan ketika mengalami haidh, “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haalin wa Astaghfiruka min Kulli Dzanbin”.(segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari segala dosa), maka dicatat (oleh Allah) baginya pembebasan dari api neraka, dan jaminan keamanan dari siksaan. Demikian sebagaimana yang telah lalu disebutkan bahwa wanita yang haidh apabila ia beristighfar sebanyak 70 (tujuh puluh) kali pada setiap sholat, maka dicatat baginya (pahala) seribu roka’at, dan dihapuskan darinya 70 (tujuh puluh) dosa, dan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam surga sebanyak rambut yang ada pada badannya.”
DERAJAT HADITS:
Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya PALSU dan BATIL. Karena semuanya itu dibuat dan disebarluaskan oleh para tukang cerita lalu dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta.
----------------------------------
#3
Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepalsuan dan kebatilannya adalah hal-hal berikut ini:
1.Riwayat-riwayat tersebut tidak ditemukan sama sekali di dalam
kitab-kitab hadits apa pun, baik itu  dalam kitab-kitab hadits yang enam
(Shohih, Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi,
Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah), atau dalam kitab-kitab
Al-Musnad seperti Musnad imam Ahmad, Musnad imam Asy-Syafi’i, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al-Bazzar, Musnad ‘Abd bin Humaid, atau dalam
kitab-kitab Al-Mu’jam seperti Al- Mu’jam Al-Kabir, Al-Mu’jam Al-Ausath,
Al-Mu’jam Ash-Shoghir karya imam Ath-Thobroni, atau dalam kitab-kitab
Al-Mushonnaf seperti Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf Abdurrrozzaq, atau dalam kitab-kitab hadits lainnya seperti As-Sunan Al-Kubro karya Al-Baihaqi, Al-Mustadrok karya Al-Hakim, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Darimi dan selainnya.
2.Riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki sanad hadits (rangkaian
para perowi yang meriwayatkannya) yang jelas.
3.Di dalam matan hadits tersebut terdapat kemungkaran (atau keganjilan) yang nampak jelas dilihat dari susunan kalimatnya, dan
pahala-pahala besar yang tidak pernah ada di dalam kebanyakan
hadits-hadits shohih yang menjelaskan Fadhilah amal (amalan-amalan yang memiliki keutamaan) meskipun hanya sepersepuluhnya saja.
4.Riwayat-riwayat tersebut disebutkan di dalam kitab Nuzhatu Al-Majalis Wa Muntakhobu An-Nafa-is karya Abdurrahman bin Abdussalam
Ash-Shofuri Asy-Syafi’i (wafat pada tahun 884 H). Dan beliau telah
menyebutkan dua riwayat di atas di dalam kitabnya tersebut dalam
konteks cerita, namun tanpa sanad. Dan kitabnya ini termasuk di antara
kitab-kitab Ar-Roqo-iq yang populer. (kitab Roqo-iq kandungan isinya
tentang hal-hal yang dapat melunakkan hati dan kezuhudan, pent). Di dalam kitabnya ini juga, dia acap kali menyebutkan kisah-kisah dan berita-berita tentang kehidupan orang-orang sholih sebagai kesimpulan dari pembahasan kitabnya itu.
--------------------------------
#4
Bahkan dia telah memenuhi kitabnya itu dengan hadits-hadits palsu yang didustakan atas nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan juga riwayat-riwayat dari Bani Israil yang tidak shohih.
5.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kitab-kitab
yang membahas tentang kezuhudan ini dan selainnya tidak pernah luput
dari hadits-hadits dan cerita-cerita yang DHO’IF (lemah) dan BATIL.
Dan dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim sudah dapat dipastikan adanya hal-hal itu. Akan tetapi riwayat-riwayat dho’if dan batil yang ada dalam kitab-kitab selain itu jauh lebih banyak lagi.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah XVIII/72).
Berdasarkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini, maka kita pun
menjadi sadar dan tidak heran lagi kalau akhir-akhir ini sering sekali
menjumpai atau membaca dan mendengar hadits-hadits atau
riwayat-riwayat tentang berbagai keutamaan besar untuk amalan-amalan tertentu, orang-orang tertentu, atau berita-berita di waktu mendatang yang sampai kepada kita namun tanpa sanad dan sumber yang jelas. Bahkan saking batil dan palsunya riwayat-riwayat tersebut karena memang buatan orang-orang di zaman sekarang, kita pun sangat kesulitan untuk mencari tahu sumber
aslinya di kitab apa meskipun tanpa sanad.
Ini terjadi tiada lain sebabnya karena kebodohan akan bahaya berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga siapapun bisa membuat hadits palsu sesuka hatinya, kemudian disandarkan kepada Nabi shallallahu
alaihi wasallam. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan ini
semua.
Setelah mengetahui kepalsuan dan kebatilan riwayat-riwayat di atas dan
yang semisalnya, maka sudah seharus bagi kita semua khususnya para
wanita muslimah untuk tidak meyakininya sebagai hadits Nabi, apalgi melakukan amalan-amalan yang disebutkan di dalamnya dalam rangka mencari pahala dan keutamaan.
Meskipun riwayat-riwayat tentang keutamaan wanita haidh di atas
terbukti palsu dan batil,
-------------------------------------
#5
akan tetapi para wanita muslimah janganlah berkecil hati atau merasa sedih ketika mengalami haidh, karena hal ini merupakan ketetapan Allah pada para wanita semuanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu anha yang bersedih dan menangis ketika mengalami haidh dalam perjalanan safar Haji bersama Nabi. Nabi bertanya kepada Aisyah demi menghibur dan meringankan kesedihannya, “Apakah engkau sedang mengalami haidh?” dia jawab: “iya”. Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidh ini merupakan perkara yang telah Allah tetapkan (untuk terjadi) pada para wanita.”. (HR. Bukhori I/113 no.290, dan Muslim II/870 no.1211).
Oleh karena itu, hendaknya para wanita muslimah bersabar atas
ketetapan Allah yang penuh hikmah ini, dan mengharapkan pahala
dari-Nya atas segala kesulitan dan kegelisahan yang ia rasakan selama
mengalami haidh, karena yang demikian ini termasuk dari jenis sakit
yang disebutkan dalam keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam
di dalam hadits shohih berikut ini:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ
النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »
Dari Abu sa’id Al-Khudri dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma-,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan kerumitan hidup, atau bahkan tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari V/2137 no.5318, dan Muslim IV/1990 no.2573).
--------------------------------
#6 terakhir. Maaf jika mengganggu O:)
Demikian penjelasan tentang derajat hadits-hadits tersebut di atas yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang
bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.
Alhamdulillah, telah selesai menulis dan menyusun artikel ini pada hari Jumat pukul 15.50 wib, tanggal 13 januari 2012 di kediamannya,
Klaten – Jawa Tengah.
(Artikel ini dibuat untuk materi kajian BBG Majlis Hadits Ikhwan dan
Akhwat di room Hadits Dho’if dan Palsu. Dan diposting di blog pribadi
penulis dan Pembina BBG Majlis Hadits: http://abufawaz.wordpress.com/, PIN: 285734BB). :)