*Mamoadi*
Kata JIL: Jilbab bukan lagi busana untuk menetapkan identitas seseorang
Ibu Profesor Musdah Mulia, salah satu tokoh Gender dan pembela pemahaman kebebasan (Liberal) di negeri kita di suatu diskusi pernah berkata,
“Jika teks-teks tentang jilbab tersebut dibaca dalam konteks sekarang, terlihat bahwa perempuan tidak perlu lagi memakai jilbab hanya sekadar agar mereka dikenali, atau mereka dibedakan dari perempuan yang berstatus budak, atau agar mereka tidak diganggu laki-laki jahat. Di masa sekarang, tidak ada lagi perbudakan, dan busana bukan ukuran untuk menetapkan identitas seseorang,” tandasnya nyleneh.
Sanggahan:
Yang beliau singgung di sini adalah surat Al Ahzab berikut:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Mari kita simak kalam ulama salaf mengenai tafsiran ayat di atas.
As Sudi rahimahullah mengatakan, “Dahulu orang-orang fasik di Madinah biasa keluar di waktu malam ketika malam begitu gelap di jalan-jalan Madinah. Mereka ingin menghadang para wanita. Dahulu orang-orang miskin dari penduduk Madinah mengalami kesusahan. Jika malam tiba para wanita (yang susah tadi) keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi hajat mereka. Para orang fasik sangat ingin menggoda para wanita tadi. Ketika mereka melihat para wanita yang mengenakan jilbab, mereka katakan, “Ini adalah wanita merdeka. Jangan sampai menggagunya.” Namun ketika mereka melihat para wanita yang tidak berjilbab, mereka katakan, “Ini adalah budak wanita. Mari kita menghadangnya.”
Mujahid rahimahullah berkata, “Hendaklah para wanita mengenakan jilbab supaya diketahui manakah yang termasuk wanita merdeka. Jika ada wanita yang berjilbab, orang-orang yang fasik ketika bertemu dengannya tidak akan menyakitinya.”
Penjelasan para ulama di atas menerangkan firman Allah mengenai manfaat jilbab,
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ
“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal.” (QS. Al Ahzab: 59)
Asy Syaukani rahimahullah menerangkan, “Ayat (yang artinya), ” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal”, bukanlah yang dimaksud supaya salah satu di antara mereka dikenal, yaitu siapa wanita itu. Namun yang dimaksudkan adalah supaya mereka dikenal, manakah yang sudah merdeka, manakah yang masih budak. Karena jika mereka mengenakan jilbab, itu berarti mereka mengenakan pakaian orang merdeka.”
Inilah yang membedakan manakah budak dan wanita merdeka dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa wanita yang tidak berjilbab berarti masih menginginkan status dirinya sebagai budak.
Coba bandingkan, manakah yang lebih paham Qur’an, As Sudi yang terkenal dengan keahliannya dalam ilmu tafsir dan juga Asy Syaukani yang tidak perlu lagi diragukan ilmunya, ataukah professor kemarin sore yang biasa memplintir ayat? Tentu saja yang kita ikuti adalah yang lebih salaf dari Bu Musdah Mulia. Seorang sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Siapa saja di antara kalian yang ingin mengikuti petunjuk, maka ambillah petunjuk dari orang-orang yang sudah mati. Karena orang yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.” Benarlah kata Ibnu Mas’ud, lebih terfitnah lagi atau lebih rusak jika yang diambil perkataan adalah orang JIL yang muara logikanya tidak jelas dan tanpa pernah mau merujuk pada dalil atau perkataan ulama, maunya mengandalkan logikanya saja. Jadi, ambillah perkataan salaf yang lebih selamat.
- Ustadz M Abduh Tuasikal
Showing posts with label jilbab. Show all posts
Showing posts with label jilbab. Show all posts
Saturday, March 23, 2013
Sunday, February 3, 2013
Jilbab - 25 Alasan Enggan Berjilbab
*fb Belajar Sholat Wajib dan Sholat Sunnah Yang Khusyu*
*Dua Puluh Lima Alasan Enggan Berjilbab*
Berikut beberapa alasan anak muda yang enggan berjilbab dan sanggahan halusnya. Semoga yang belum berjilbab mendapat hidayah.
1. Saya nggak mau jilbaban! Jilbaban itu kuno
“Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake jilbab”
2. Tapi kan itu hal kecil, kenapa jilbaban harus dipermasalahin?!
“Yang besar-besar itu semua awalnya dari perkara kecil yang diremehkan”
3. Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari jilbabnya, fisiknya!
“trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik? Dan Islam meyakini bahwa iman itu bukan hanya perkara hati, namun juga ditunjukkan dalam fisik atau amalan lahiriyah. Hati pun cerminan dari lahiriyah. Jika lahiriyah rusak, maka demikianlah hatinya”
4. Jilbaban belum tentu baik
“Betul, yang jilbaban aja belum tentu baik, apalagi yang … (isi sendiri)”
5. Saya kemarin lihat ada yang jilbaban nyuri!
“So what? yang nggak jilbaban juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”
6. Artinya lebih baik jilbabin hati dulu, buat hati baik!
“Yup, ciri hati yang baik adalah jilbabin kepala dan tutup aurat”
7. Kalo jilbaban masih maksiat gimana? dosa kan?
“Kalo nggak jilbaban dan maksiat dosanya malah 2. Malah nggak jilbaban itu dosa besar. ″
8. Jilbaban itu buat aku nggak bebas!
“Oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”
9. Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis!
“Nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim tidak mau taat”
10. Kalo aku pake jilbab, nggak ada yang mau sama aku!?
“Banyak yang jilbaban dan mereka nikah kok”
11. Kalo calon suamiku gak suka gimana?
“Berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur? Dan ingatlah al khobitsaatu lil khobitsiin, perempuan rusak ditakdirkan dengan lelaki yang sama. Demikian sebaliknya.”
12. Susah cari kerja kalo pake jilbab!
“Lalu enggan taat pada perintah Allah demi kerja? emang yang kasih rizki siapa sih? Bos atau Allah? Dan asalnya wanita itu berdiam di rumah: wa qorna fii buyutikunna (menetaplah kalian di rumah-rumah kalian)”
13. Ngapa sih agama cuma diliat dari jilbab dan jilbab?
“Sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”
14. Aku nggak mau diperbudak pakaian arab!
“Ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu (di zaman jahiliyah) gak pake jilbab. Syari’at jilbab ini untuk seluruh wanita, bukan hanya Arab sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".”
15. Jilbab cuma akal-akalan lelaki menindas wanita
“Perasaan yang adain miss universe laki-laki deh, yang larang jilbab di prancis jg laki-laki″
16. Aku nggak mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake!
“Sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”
17. Jilbab kan bikin panas, pusing, ketombean
“Jutaan orang pake jilbab, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”
18. Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?!
“Katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”
19. Jilbab kan nggak gaul?!
“Lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”
20. Aku belum pengalaman pake jilbab!
“Pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”
21. Aku belum siap pake jilbab
“Kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”
22. Mamaku bilang jangan terlalu fanatik!
“Bilang ke mama dengan lembut dan santun, bahwa cintamu padanya dengan menaati Allah penciptanya”
23. Aku kan gak bebas ke mana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju!
“Bukankah itu perubahan baik?”
24. Itu kan nggak wajib dalam Islam!?
“Kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”
25. Kasi aku waktu supaya aku yakin jilbaban dulu
“Yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”.
Nah wahai saudariku muslimah, tunggu apalagi?
Mengenai kewajiban berjilbab sudah ditetapkan dalam Al Qur’an yang tiap hari kit abaca, di mana Allah Ta’ala berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.
Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, …” (QS. An Nur: 31).
Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”
(HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890)
Dalam Lisanul ‘Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (rida’) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya.[1] Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.
Semoga Allah beri hidayah demi hidayah bagi yang belum berjilbab.Aamiin.
by: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152465030110258&set=a.10150225283385258.458245.10150117443820258&type=1
*Dua Puluh Lima Alasan Enggan Berjilbab*
Berikut beberapa alasan anak muda yang enggan berjilbab dan sanggahan halusnya. Semoga yang belum berjilbab mendapat hidayah.
1. Saya nggak mau jilbaban! Jilbaban itu kuno
“Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake jilbab”
2. Tapi kan itu hal kecil, kenapa jilbaban harus dipermasalahin?!
“Yang besar-besar itu semua awalnya dari perkara kecil yang diremehkan”
3. Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari jilbabnya, fisiknya!
“trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik? Dan Islam meyakini bahwa iman itu bukan hanya perkara hati, namun juga ditunjukkan dalam fisik atau amalan lahiriyah. Hati pun cerminan dari lahiriyah. Jika lahiriyah rusak, maka demikianlah hatinya”
4. Jilbaban belum tentu baik
“Betul, yang jilbaban aja belum tentu baik, apalagi yang … (isi sendiri)”
5. Saya kemarin lihat ada yang jilbaban nyuri!
“So what? yang nggak jilbaban juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”
6. Artinya lebih baik jilbabin hati dulu, buat hati baik!
“Yup, ciri hati yang baik adalah jilbabin kepala dan tutup aurat”
7. Kalo jilbaban masih maksiat gimana? dosa kan?
“Kalo nggak jilbaban dan maksiat dosanya malah 2. Malah nggak jilbaban itu dosa besar. ″
8. Jilbaban itu buat aku nggak bebas!
“Oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”
9. Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis!
“Nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim tidak mau taat”
10. Kalo aku pake jilbab, nggak ada yang mau sama aku!?
“Banyak yang jilbaban dan mereka nikah kok”
11. Kalo calon suamiku gak suka gimana?
“Berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur? Dan ingatlah al khobitsaatu lil khobitsiin, perempuan rusak ditakdirkan dengan lelaki yang sama. Demikian sebaliknya.”
12. Susah cari kerja kalo pake jilbab!
“Lalu enggan taat pada perintah Allah demi kerja? emang yang kasih rizki siapa sih? Bos atau Allah? Dan asalnya wanita itu berdiam di rumah: wa qorna fii buyutikunna (menetaplah kalian di rumah-rumah kalian)”
13. Ngapa sih agama cuma diliat dari jilbab dan jilbab?
“Sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”
14. Aku nggak mau diperbudak pakaian arab!
“Ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu (di zaman jahiliyah) gak pake jilbab. Syari’at jilbab ini untuk seluruh wanita, bukan hanya Arab sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".”
15. Jilbab cuma akal-akalan lelaki menindas wanita
“Perasaan yang adain miss universe laki-laki deh, yang larang jilbab di prancis jg laki-laki″
16. Aku nggak mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake!
“Sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”
17. Jilbab kan bikin panas, pusing, ketombean
“Jutaan orang pake jilbab, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”
18. Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?!
“Katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”
19. Jilbab kan nggak gaul?!
“Lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”
20. Aku belum pengalaman pake jilbab!
“Pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”
21. Aku belum siap pake jilbab
“Kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”
22. Mamaku bilang jangan terlalu fanatik!
“Bilang ke mama dengan lembut dan santun, bahwa cintamu padanya dengan menaati Allah penciptanya”
23. Aku kan gak bebas ke mana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju!
“Bukankah itu perubahan baik?”
24. Itu kan nggak wajib dalam Islam!?
“Kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”
25. Kasi aku waktu supaya aku yakin jilbaban dulu
“Yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”.
Nah wahai saudariku muslimah, tunggu apalagi?
Mengenai kewajiban berjilbab sudah ditetapkan dalam Al Qur’an yang tiap hari kit abaca, di mana Allah Ta’ala berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.
Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, …” (QS. An Nur: 31).
Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”
(HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890)
Dalam Lisanul ‘Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (rida’) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya.[1] Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.
Semoga Allah beri hidayah demi hidayah bagi yang belum berjilbab.Aamiin.
by: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152465030110258&set=a.10150225283385258.458245.10150117443820258&type=1
Sunday, January 20, 2013
Jilbab - Bantahan thd Quraish Shihab
*fb Majalah Qiblati*
Bantahan terhadap Prof. Quraish Shihab tentang Jilbab dan Aurat
Seorang ibu dalam acara talk show di Metro TV yang menghadirkan Bapak Prof. Dr. Quraish Shihab bertanya kepada beliau tentang hukum jilbab dan penerapannya pada keluarga bapak Prof. Dr. Quraish Shihab.
Namun tidak disangka-sangka bapak Prof. Dr. Quraish Shihab justru menjawab dengan pernyataan yang membuat sang Ibu tadi menjadi bingung dan umat yang menyaksikan talk show juga dibuatnya menjadi bingung.
============================
Kritik terhadap Prof. DR. Quraish Shihab atas pendapatnya tentang Jilbab dan Aurat
Oleh:
DR. Ahmad Zain An-Najah (www.ahmadzain.com)
Riwayat Pendidikan:
S1: Fakultas Syari'ah, Universitas Islam, Madinah Al-Munawwarah, tahun 1996
S2: Fakultas Syari'ah Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 2001
S3: Jurusan Syari'ah Fakultas Studi Islam, Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 2007, lulus dengan predikat "Summa Cum Laude"
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah Washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah wa ba'd,
Pada kesempatan ini saya hendak menyampaikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan oleh Bapak Quraish Shihab tentang masalah jilbab. Mudah-mudahan tanggapan ini diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan dapat meluruskan pemahaman yang salah.
(berikutnya adalah tanya-jawab antara seorang ibu terhadap Bapak. Quraish Shihab dalam acara Talk Show di Metro TV dan juga tanggapan dari DR. Ahmad Zain An-Najah)
Ibu: Ingin bertanya kepada Bapak Quraish. Jilbab adalah pakaian wanita Islam dan wajib dikenakan. Bagaimana pendapat Bapak mengenai jilbab dan penterapannya dalam keluarga Bapak sendiri. Terima kasih
Quraish Shihab: Kita mau tanya ibu, apa sih artinya jilbab?
Ibu: Jilbab itu adalah penutup aurat seluruh badan
Quraish Shihab: Ah...Bukan itu.
Ibu: Termasuk kepala juga
Quraish Shihab: Ah justru kita baru memulai membahas apa itu jilbab ulama sudah beda pendapat. Ada yang mengatakan kerudung, ada yang mengatakan baju lebar dan sebagainya.
(tanggapan di luar acara Talk Show di atas)
Zain An-Najah: Pernyataan itu tidak benar. karena tidak kita dapatkan dalam buku-buku literatur fikih yang tidak mewajibkan berjilbab. Seluruh ulama telah mewajibkan berjilbab. Maka perlu kita tanyakan kepada Bapak Quraish Shihab bahwa siapa ulama, namanya siapa, di buku mana dan kapan mengatakan jilbab itu tidak wajib?
Karena perbedaan ulama hanya terbatas pada dua hal saja, yaitu wajib bercadar ataupn wajib berjilbab dengan boleh membuka wajah dan kedua telapak tangan.
***
Quraish Shihab: Saya mau tanya ibu. Ibu Sudah menutup aurat atau belum?
Ibu: (sambil melihat busana yang dikenakannya) Kalau saya rasa dengan busana begini, saya rasa sudah. (Ibu tersebut memakai jilbab mentup selurh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, meskipun tidak memakai jilbab besar)
Quraish Shihab: Oh, masih ada ulama yang mengatakan ibu belum menutup aurat! Mestinya pakai cadar. Itu kan sudah beda pendapat.
(Si Ibu sambil mengangguk-ngangguk)
Ah, ada juga ulama yang berkata, 'yang penting itu pakaian terhormat'
(tanggapan)
Zain An-Najah: pernyataan 'yang penting itu pakaian terhormat atau sopan' pernyataan itu tidak tepat dan tidak benar. Karena tidak mempunyai kriteria yang jelas. Boleh jadi orang yang menggunakan pakaian atau wanita yang memakai pakaian di atas lutut yang kelihatan betisnya oleh sebagian kalangan dinyatakan terhormat.
Bisa saja ada orang yang mengatakan bahwa pakaian renang itu adalah pakaian yang terhormat ketika ada lomba renang. Jadi kalau dikatakan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang terpenting dari pakaian itu adalah terhormat. Itu tidak benar. Karena tidak ada satupun ulama yang mengatakan demikian.
Dan masalah terhormat ini tidak mempunyai batasan sehingga mengacaukan pandangan dan mengacaukan pemahaman.
***
Quraish Shihab: Kalau ibu tanya bagaimana dengan keluarga saya. Istri saya pakai jilbab. Anak saya yang tertua pakai jilbab atas kesadarannya. Bukan karena saya pilih-pilih. Anak saya itu yang paling kecil itu, yang dikedokteran itu (sambil menunjuk anaknya yang hadir dalam acara tersebut. keluarga Shihab hadir semua dalam acara itu) sdah mau pakai jilbab. Tapi saya bilang yang penting sadar. Saya beranggapan jilbab baik. Tetapi jangan paksakan orang pakai jilbab karena ada ulama yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib. Ada ulama yang berkata wajib menutup aurat. Sedangkan aurat diperselisihkan oleh ulama apa itu aurat.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa sebagian ulama ada yang mengatakan jilbab itu tidak wajib. Pernyataannya tidak benar. Karena seluruh ulama mengatakan bahwa jilbab itu wajib. Mereka hanya berbeda apakah seluruh anggota tubuh wanita itu ditutup, artinya mereka mewajibkan cadar atau pendapat kedua, semua anggota tubuh wanita itu ditutup kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Perbedaannya hanya pada dua masalah tersebut. Dan tidak ada satupun yang mengatakan bahwa jilbab tidak wajib!
Bapak Quraish Shihab mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan aurat. Kita katakan, memang benar para ulama berbeda dalam menentukan batas aurat perempuan.
Tetapi sekali lagi perbedaannya hanya pada apakah wajah dan kedua telapak tangan itu aurat atau tidak. Kalau yang mengatakan itu adalah aurat, mereka mengatakan bahwa cadar wajib. Yang mengatakan wajah dan telapak tangan tidak aurat berarti mengatakan jilbab itu wajib tetapi boleh dibukan wajah dan kedua telapak tangannya.
Tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa rambut bukan aurat. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa bagian terdalam wanita seperti payudara dan sebagainya bukan aurat. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan betispun bukan aurat. Tidak ada yang mengatakan seperti itu. Jadi perbedaannya hanya apakah wajah dan kedua telapak tangan itu aurat atau tidak.
***
Quraish Shihab: Eh ini orang pakai jilbab sejak tahun berapa toh ini? kira-kira 20-30 tahun belakangan ini.
Ibu: Di Indonesia
Quraish Shihab: Ya di Indonesia. Dulu itu istrinya Buya Hamka pakai jilbab atau tidak?
Ibu: Tidak
Quraish Shihab: Aisyiyyah (Muhammadiyah) pakai jilbab atau tidak? Muslimat (NU) pakai jilbab atau tidak? Itu pertanda bahwa sebenarnya ulama beda pendapat. Nah kita ingin orang memakai jilbab itu dengan penuh kesadaran.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa di Indonesia ini baru muncul 20 tahun terakhir ini. Kemudian sebagian tokoh muslim Indonesia seperti Buya Hamka, istrinya tidak pakai jilbab. Kemudian juga Muslimat Nahdlatul Ulama tidak pakai jilbab, itu kemudian dijadikan dalil bahwa ternyata para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, pernyataan seperti itu tidak benar.
Karena di dalam mengambil sebuah hukum, tidak boleh menggunakan sikap perorang. Tidak boleh menggunakan perilaku perorangan.
Kalau dikatakan bahwa istrinya Buya Hamka tidak pakai jilbab maka dari itu kita boleh meniru istrinya buya Hamka, kita katakan kepada Bapak Quraish Shihab, Istrinya Nabi Nuh itu kafir. Apakah terus dengan begitu kita boleh kafir karena istrinya Nabi Nuh kafir? Kemudian istrinya Nabi Luth itu juga kafir. Apakah kemudian kita membolehkan kita kafir karena merujuk kepada istrinya Nabi Luth? Sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu juga menentang Islam. Apakah kemudian kita menyatakan bahwa boleh menentang Islam karena sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu menentang Islam. Begitu juga anaknya Nabi Nuh, itu juga tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh, tidak mengikuti ajaran Islam. Apakah terus kita boleh mengatakan kepada anaka kita, wahai anak kau boleh menentang Islam karena anaknya Nabi Nuh juga menentang Islam.
Tentunya ini tidak bisa diterima. Jadi intinya tidak boleh menjadikan perilaku seorang tokoh atau perilaku masyarakat sebagai dasar daripada pengambilan hukum.
Yang benar dasarnya dalam mengambil hukum adalah Al-Qur'an dan Sunnah serta beberapa kaidah yang telah diletakkan oleh para ulama. Dan tidak ada satupun dalam kaidah tersebut bahwa perilaku seseorang, perilaku tokoh bisa menjadi sumber pengambilan hukum.
Perlu saya tambahi di sini, bahwa bisa saja ulama tersebut, tokoh masyarakat tersebut yang istrinya tidak pakai jilbab atau anaknya tidak pakai jilbab, barangkali ulama tersebut meyakini bahwa berjilbab wajib. Hanya saja istrinya membangkang, atau tokoh tersebut, orang tua tersebut telah menasehati anaknya, tetapi anaknya tidak mau mendengar nasehat bapaknya. Jadi sekali lagi, perbuatan sekeluarga dari para ulama itu tidak bisa dijadikan dasar untuk pengambilan hukum.
***
Quraish Shihab: Yang penting begini bu, pakaian terhormat. Itu menurut hemat saya.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Perkataan Bapak Quraish Shihab yang penting adalah pakaian terhormat. Ini adalah pernyataan yang sangat naif. Karena pakaian terhormat, sekali lagi tidak mempunyai batasan yang jelas. Pakaian terhormat menurut Quraish Shihab berbeda dengan pakaian terhormat menurut artis. Dan berbeda pula pakaian tehormat menurut orang-orang yang lain.
Sehingga pernyataan pakaian yang terhormat adalah pernyataan yang sangat naif yang jauh dari dasar-dasar agama.
***
Quraish Shihab: Jadi berjilbab baik, bagus. Tetapi boleh jadi sudah melebihi apa yang dikehendaki oleh Tuhan.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa jilbab itu bagus tetapi boleh jadi orang yang memakai jilbab itu sudah melebihi apa yang dikehendaki oleh Tuhan adalah pernyataan yang sangat gegabah. Karena kalimat berlebihan itu menunjukkan negatif.
Allah Subhanah wa ta'ala sendiri melarang kaum Muslimin untuk berlebih-lebihan di dalam mengamalkan ajaran Islam. Karena orang yang berlebihan dalam mengamalkan ajaran itu maknanya adalah negatif, sesat dan menyesatkan.
Oleh karena itu kalimat orang yang menggunakan jilbab itu berlebih-lebihan dalam mengamalkan Islam dan boleh jadi sudah melebihi apa yang dikehendaki Tuhan adalah pernyataan yang sangat sembrono dan itu menyatakan bahwa yang memakai jilbab telah melanggar pesan-pesan Allah untuk beragama Islam secara wajar.
Kemudian yang perlu saya tekankan di sini bahwasanya memang kita harus menghormati perbedaan pendapat di dalam agama Islam ini. Tetapi yang kita hormati itu adalah pendapat-pendapat yang memang masih dalam koridor ajaran Islam dan menggunakan metode yang telah diletakkan oleh para ulama. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ulama, tidak semua perbedaan pendapat bisa diterima, kecuali perbedaan pendapat yang masih berada dalam koridor syariah. Adapun pendapat dari sebagian orang yang tidak mempunyai background syariah, maka itu tidak bisa diterima. Apalagi tidak menggunakan metodologi yang telah diletakkan oleh para ulama.
Demikian apa yang saya sampaikan ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kaum Muslimin di mana pun juga berada. Wabillahi taufiq wal hidayah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
http://www.lppimakassar.com/ 2013/01/ video-bantahan-terhadap-prof-qu raish.html
http://www.ahmadzain.com/
Bantahan terhadap Prof. Quraish Shihab tentang Jilbab dan Aurat
Seorang ibu dalam acara talk show di Metro TV yang menghadirkan Bapak Prof. Dr. Quraish Shihab bertanya kepada beliau tentang hukum jilbab dan penerapannya pada keluarga bapak Prof. Dr. Quraish Shihab.
Namun tidak disangka-sangka bapak Prof. Dr. Quraish Shihab justru menjawab dengan pernyataan yang membuat sang Ibu tadi menjadi bingung dan umat yang menyaksikan talk show juga dibuatnya menjadi bingung.
============================
Kritik terhadap Prof. DR. Quraish Shihab atas pendapatnya tentang Jilbab dan Aurat
Oleh:
DR. Ahmad Zain An-Najah (www.ahmadzain.com)
Riwayat Pendidikan:
S1: Fakultas Syari'ah, Universitas Islam, Madinah Al-Munawwarah, tahun 1996
S2: Fakultas Syari'ah Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 2001
S3: Jurusan Syari'ah Fakultas Studi Islam, Universitas Al-Azhar, Kairo, tahun 2007, lulus dengan predikat "Summa Cum Laude"
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah Washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah wa ba'd,
Pada kesempatan ini saya hendak menyampaikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan oleh Bapak Quraish Shihab tentang masalah jilbab. Mudah-mudahan tanggapan ini diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan dapat meluruskan pemahaman yang salah.
(berikutnya adalah tanya-jawab antara seorang ibu terhadap Bapak. Quraish Shihab dalam acara Talk Show di Metro TV dan juga tanggapan dari DR. Ahmad Zain An-Najah)
Ibu: Ingin bertanya kepada Bapak Quraish. Jilbab adalah pakaian wanita Islam dan wajib dikenakan. Bagaimana pendapat Bapak mengenai jilbab dan penterapannya dalam keluarga Bapak sendiri. Terima kasih
Quraish Shihab: Kita mau tanya ibu, apa sih artinya jilbab?
Ibu: Jilbab itu adalah penutup aurat seluruh badan
Quraish Shihab: Ah...Bukan itu.
Ibu: Termasuk kepala juga
Quraish Shihab: Ah justru kita baru memulai membahas apa itu jilbab ulama sudah beda pendapat. Ada yang mengatakan kerudung, ada yang mengatakan baju lebar dan sebagainya.
(tanggapan di luar acara Talk Show di atas)
Zain An-Najah: Pernyataan itu tidak benar. karena tidak kita dapatkan dalam buku-buku literatur fikih yang tidak mewajibkan berjilbab. Seluruh ulama telah mewajibkan berjilbab. Maka perlu kita tanyakan kepada Bapak Quraish Shihab bahwa siapa ulama, namanya siapa, di buku mana dan kapan mengatakan jilbab itu tidak wajib?
Karena perbedaan ulama hanya terbatas pada dua hal saja, yaitu wajib bercadar ataupn wajib berjilbab dengan boleh membuka wajah dan kedua telapak tangan.
***
Quraish Shihab: Saya mau tanya ibu. Ibu Sudah menutup aurat atau belum?
Ibu: (sambil melihat busana yang dikenakannya) Kalau saya rasa dengan busana begini, saya rasa sudah. (Ibu tersebut memakai jilbab mentup selurh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, meskipun tidak memakai jilbab besar)
Quraish Shihab: Oh, masih ada ulama yang mengatakan ibu belum menutup aurat! Mestinya pakai cadar. Itu kan sudah beda pendapat.
(Si Ibu sambil mengangguk-ngangguk)
Ah, ada juga ulama yang berkata, 'yang penting itu pakaian terhormat'
(tanggapan)
Zain An-Najah: pernyataan 'yang penting itu pakaian terhormat atau sopan' pernyataan itu tidak tepat dan tidak benar. Karena tidak mempunyai kriteria yang jelas. Boleh jadi orang yang menggunakan pakaian atau wanita yang memakai pakaian di atas lutut yang kelihatan betisnya oleh sebagian kalangan dinyatakan terhormat.
Bisa saja ada orang yang mengatakan bahwa pakaian renang itu adalah pakaian yang terhormat ketika ada lomba renang. Jadi kalau dikatakan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa yang terpenting dari pakaian itu adalah terhormat. Itu tidak benar. Karena tidak ada satupun ulama yang mengatakan demikian.
Dan masalah terhormat ini tidak mempunyai batasan sehingga mengacaukan pandangan dan mengacaukan pemahaman.
***
Quraish Shihab: Kalau ibu tanya bagaimana dengan keluarga saya. Istri saya pakai jilbab. Anak saya yang tertua pakai jilbab atas kesadarannya. Bukan karena saya pilih-pilih. Anak saya itu yang paling kecil itu, yang dikedokteran itu (sambil menunjuk anaknya yang hadir dalam acara tersebut. keluarga Shihab hadir semua dalam acara itu) sdah mau pakai jilbab. Tapi saya bilang yang penting sadar. Saya beranggapan jilbab baik. Tetapi jangan paksakan orang pakai jilbab karena ada ulama yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib. Ada ulama yang berkata wajib menutup aurat. Sedangkan aurat diperselisihkan oleh ulama apa itu aurat.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa sebagian ulama ada yang mengatakan jilbab itu tidak wajib. Pernyataannya tidak benar. Karena seluruh ulama mengatakan bahwa jilbab itu wajib. Mereka hanya berbeda apakah seluruh anggota tubuh wanita itu ditutup, artinya mereka mewajibkan cadar atau pendapat kedua, semua anggota tubuh wanita itu ditutup kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Perbedaannya hanya pada dua masalah tersebut. Dan tidak ada satupun yang mengatakan bahwa jilbab tidak wajib!
Bapak Quraish Shihab mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan aurat. Kita katakan, memang benar para ulama berbeda dalam menentukan batas aurat perempuan.
Tetapi sekali lagi perbedaannya hanya pada apakah wajah dan kedua telapak tangan itu aurat atau tidak. Kalau yang mengatakan itu adalah aurat, mereka mengatakan bahwa cadar wajib. Yang mengatakan wajah dan telapak tangan tidak aurat berarti mengatakan jilbab itu wajib tetapi boleh dibukan wajah dan kedua telapak tangannya.
Tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa rambut bukan aurat. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa bagian terdalam wanita seperti payudara dan sebagainya bukan aurat. Tidak ada satupun ulama yang mengatakan betispun bukan aurat. Tidak ada yang mengatakan seperti itu. Jadi perbedaannya hanya apakah wajah dan kedua telapak tangan itu aurat atau tidak.
***
Quraish Shihab: Eh ini orang pakai jilbab sejak tahun berapa toh ini? kira-kira 20-30 tahun belakangan ini.
Ibu: Di Indonesia
Quraish Shihab: Ya di Indonesia. Dulu itu istrinya Buya Hamka pakai jilbab atau tidak?
Ibu: Tidak
Quraish Shihab: Aisyiyyah (Muhammadiyah) pakai jilbab atau tidak? Muslimat (NU) pakai jilbab atau tidak? Itu pertanda bahwa sebenarnya ulama beda pendapat. Nah kita ingin orang memakai jilbab itu dengan penuh kesadaran.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa di Indonesia ini baru muncul 20 tahun terakhir ini. Kemudian sebagian tokoh muslim Indonesia seperti Buya Hamka, istrinya tidak pakai jilbab. Kemudian juga Muslimat Nahdlatul Ulama tidak pakai jilbab, itu kemudian dijadikan dalil bahwa ternyata para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, pernyataan seperti itu tidak benar.
Karena di dalam mengambil sebuah hukum, tidak boleh menggunakan sikap perorang. Tidak boleh menggunakan perilaku perorangan.
Kalau dikatakan bahwa istrinya Buya Hamka tidak pakai jilbab maka dari itu kita boleh meniru istrinya buya Hamka, kita katakan kepada Bapak Quraish Shihab, Istrinya Nabi Nuh itu kafir. Apakah terus dengan begitu kita boleh kafir karena istrinya Nabi Nuh kafir? Kemudian istrinya Nabi Luth itu juga kafir. Apakah kemudian kita membolehkan kita kafir karena merujuk kepada istrinya Nabi Luth? Sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu juga menentang Islam. Apakah kemudian kita menyatakan bahwa boleh menentang Islam karena sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu menentang Islam. Begitu juga anaknya Nabi Nuh, itu juga tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh, tidak mengikuti ajaran Islam. Apakah terus kita boleh mengatakan kepada anaka kita, wahai anak kau boleh menentang Islam karena anaknya Nabi Nuh juga menentang Islam.
Tentunya ini tidak bisa diterima. Jadi intinya tidak boleh menjadikan perilaku seorang tokoh atau perilaku masyarakat sebagai dasar daripada pengambilan hukum.
Yang benar dasarnya dalam mengambil hukum adalah Al-Qur'an dan Sunnah serta beberapa kaidah yang telah diletakkan oleh para ulama. Dan tidak ada satupun dalam kaidah tersebut bahwa perilaku seseorang, perilaku tokoh bisa menjadi sumber pengambilan hukum.
Perlu saya tambahi di sini, bahwa bisa saja ulama tersebut, tokoh masyarakat tersebut yang istrinya tidak pakai jilbab atau anaknya tidak pakai jilbab, barangkali ulama tersebut meyakini bahwa berjilbab wajib. Hanya saja istrinya membangkang, atau tokoh tersebut, orang tua tersebut telah menasehati anaknya, tetapi anaknya tidak mau mendengar nasehat bapaknya. Jadi sekali lagi, perbuatan sekeluarga dari para ulama itu tidak bisa dijadikan dasar untuk pengambilan hukum.
***
Quraish Shihab: Yang penting begini bu, pakaian terhormat. Itu menurut hemat saya.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Perkataan Bapak Quraish Shihab yang penting adalah pakaian terhormat. Ini adalah pernyataan yang sangat naif. Karena pakaian terhormat, sekali lagi tidak mempunyai batasan yang jelas. Pakaian terhormat menurut Quraish Shihab berbeda dengan pakaian terhormat menurut artis. Dan berbeda pula pakaian tehormat menurut orang-orang yang lain.
Sehingga pernyataan pakaian yang terhormat adalah pernyataan yang sangat naif yang jauh dari dasar-dasar agama.
***
Quraish Shihab: Jadi berjilbab baik, bagus. Tetapi boleh jadi sudah melebihi apa yang dikehendaki oleh Tuhan.
(tanggapan)
Zain An-Najah: Pernyataan Bapak Quraish Shihab bahwa jilbab itu bagus tetapi boleh jadi orang yang memakai jilbab itu sudah melebihi apa yang dikehendaki oleh Tuhan adalah pernyataan yang sangat gegabah. Karena kalimat berlebihan itu menunjukkan negatif.
Allah Subhanah wa ta'ala sendiri melarang kaum Muslimin untuk berlebih-lebihan di dalam mengamalkan ajaran Islam. Karena orang yang berlebihan dalam mengamalkan ajaran itu maknanya adalah negatif, sesat dan menyesatkan.
Oleh karena itu kalimat orang yang menggunakan jilbab itu berlebih-lebihan dalam mengamalkan Islam dan boleh jadi sudah melebihi apa yang dikehendaki Tuhan adalah pernyataan yang sangat sembrono dan itu menyatakan bahwa yang memakai jilbab telah melanggar pesan-pesan Allah untuk beragama Islam secara wajar.
Kemudian yang perlu saya tekankan di sini bahwasanya memang kita harus menghormati perbedaan pendapat di dalam agama Islam ini. Tetapi yang kita hormati itu adalah pendapat-pendapat yang memang masih dalam koridor ajaran Islam dan menggunakan metode yang telah diletakkan oleh para ulama. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang ulama, tidak semua perbedaan pendapat bisa diterima, kecuali perbedaan pendapat yang masih berada dalam koridor syariah. Adapun pendapat dari sebagian orang yang tidak mempunyai background syariah, maka itu tidak bisa diterima. Apalagi tidak menggunakan metodologi yang telah diletakkan oleh para ulama.
Demikian apa yang saya sampaikan ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kaum Muslimin di mana pun juga berada. Wabillahi taufiq wal hidayah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
http://www.lppimakassar.com/
http://www.ahmadzain.com/
Wednesday, January 9, 2013
Berpakaian Tapi Telanjang
*Mamoadi*
Bismillah,
Fenomena legging (berpakaian/bercelana ketat) bagi wanita hingga mempertontonkan lekuk tubuhnya, terutama bagi para wanita yang mengaku dirinya muslim, sungguh sangat memprihatinkan, terutama di negri ini yang katanya mayoritasnya adalah kaum muslimin.
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat :
[1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan
[2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
[HR. Muslim no. 2128].
Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ,(berpakaian tetapi telanjang)
Makna pertama : wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua : wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga : wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, dan sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud denga wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat : wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.
[Syarh Muslim, 9/240]
Semoga bermanfaat.
Bismillah,
Fenomena legging (berpakaian/bercelana ketat) bagi wanita hingga mempertontonkan lekuk tubuhnya, terutama bagi para wanita yang mengaku dirinya muslim, sungguh sangat memprihatinkan, terutama di negri ini yang katanya mayoritasnya adalah kaum muslimin.
Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat :
[1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan
[2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
[HR. Muslim no. 2128].
Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ,(berpakaian tetapi telanjang)
Makna pertama : wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua : wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga : wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, dan sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud denga wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat : wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.
[Syarh Muslim, 9/240]
Semoga bermanfaat.
Ketika Busana Muslimah Dicampakkan
*Kholid Syamhudi*
#Ketika Busana Muslimah Dicampakkan#
Dewasa ini muncul busana muslimah dengan beragam corak dan mode. Bahkan terpajang di outlet-outlet penjualan yang biasanya dipenuhi baju-baju pengumbar aurat. Namun, kebanyakan busana-busana muslimah tersebut masih mempertontonkan lekuk tubuh, sempit, lagi ketat. Demikian pula aneka jilbab gaul dengan desain seperti topi yang hanya menutupi rambut belaka.
Di sisi lain, busana muslimah hanya dipakai dalam acara-acara tertentu atau kegiatan keagamaan. Misalnya hanya ketika shalat, seorang wanita muslimah berusaha menutupi tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga rambut dan kaki tidak terlihat. Namun, begitu salam telah diucapkan, maka keadaannya akan kembali seperti semula.
Mereka keluar rumah dengan mengenakan baju yang mereka sangka telah berdasarkan aturan Islam, akan tetapi kenyataannya tidak memenuhi syarat untuk menutupi aurat. Sehingga masuklah mereka ke dalam kategori “berbusana tetapi telanjang”. Seolah-olah menutup aurat hanya wajib ketika shalat semata atau sekedar kulit tidak terlihat lagi oleh mata lelaki lain. Wa ilallâhil musytaka (kepada Allâh Ta'âla lah tempat pengaduan).
إِذَا الْـمَرْأُ لَـمْ يَلْبِسْ لِبَاسًا مِنَ التُّقَى
تَقَلَّبَ عُرْيَانًا وَإِنْ كَانَ كَاسِيًا
وَ خَيْرُ لِبَاسِ الْـمَرْءِ طَاعَةُ رَبِّهِ
وَ لاَ خَيْرَ فِـيْمَنْ كَانَ عَاصِيًا
Apabila seseorang tidak mengenakan baju ketakwaan,
ia menjelma menjadi manusia telanjang kendati tubuhnya tertutupi.
Sebaik-baik pakaian adalah ketaatan kepada Rabbnya,
tiada kebaikan bagi orang yg bermaksiat
#RAHMAT ISLAM BAGI KAUM WANITA#
Kandungan ajaran Islam, secara khusus sangat memuliakan derajat kaum wanita setelah pada zaman jahiliyah berada dalam level yang sangat rendah dan hak-haknya terinjak-injak. Islam menetapkan aturan-aturan bagi dua jenis manusia, lelaki dan wanita sesuai dengan kodratnya. Islam juga menyamakan kedudukan lelaki dan wanita dalam persoalan-persoalan tertentu, dengan berkaca pada hikmah Allâh Ta’ala.
Aspek-aspek perbedaan antara keduanya pun diakomodasi dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Konsistensi kaum muslimah dalam menjalankan syariat Allâh, adab-adab Islam dan moralitasnya, itulah metode paling utama dan sarana terpenting bagi pemberdayaan kaum wanita dalam pembangunan umat dan kemajuan peradaban. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, sehingga semestinya memperoleh dukungan dan penghargaan dari seluruh umat Islam.
SLOGAN-SLOGAN MENYESATKAN BAGI KAUM MUSLIMAH
Para musuh Islam sangat berkepentingan terhadap penyelewengan kaum muslimah. Pasalnya, mereka mengetahui benar posisi strategis seorang wanita muslimah dalam pembinaan dan pembentukan generasi Islam yang kuat.
Melalui corong-corong (media massa) yang ada di negeri-negeri muslim, para musuh Islam itu melontarkan slogan-slogan yang bombastis, dalam rangka mengenyahkan kaum muslimah dari kesucian, benteng kehormatan dan peran penting pembinaan umat.
Dengan mengatas namakan tahrîrulmar‘ah (kebebasan bagi kaum Hawa), arraghbah filistifâdah min thâqatil mar‘ah (pemberdayaan kaum wanita), inshâfulmar‘ah (keadilan bagi kaum wanita/emansipasi) dan slogan-slogan yang berdalih modernisasi, para musuh Islam dan antek-anteknya mencoba memperdaya kaum muslimah.
Slogan-slogan dan propaganda-propaganda ini diarahkan kepada satu tujuan. Yakni menyeret kaum wanita Islam keluar dari manhaj syar’i, dan menyodorkannya kepada ancaman eksploitasi aurat, kenistaan, kehinaan dan fitnah. Sebagian dari kalangan muslimah ada yang bertekuk lutut menghadapi propaganda yang tampaknya baik, yakni untuk mengentaskannya dari “penderitaan”. Demikian yang dipersepsikan oleh kaum propagandis, baik dari kalangan sekularis maupun liberalis.
Orang-orang semacam ini, yang menjauhi syariat Allâh terancam dengan kehidupan yang sempit lagi menyesakkan.
Allâh Ta'âla berfirman:
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku,
maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
(Qs Thâhâ/20:124)
TRAGEDI PELUCUTAN DAN PEMBAKARAN BUSANA MUSLIMAH#
Gerakan “pembebasan” wanita sering unjuk gigi menggalang dukungan untuk menjauhkan kaum muslimah dari jati dirinya yang terhormat. Mereka melakukan demonstrasi dan menolak aturan yang menjaga kehormatan wanita. Hal itu bukan baru muncul belakangan ini, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak tahun 1919 M.
Pada waktu itu muncul demonstrasi kaum muslimah di Mesir tanggal 12 Maret 1919 di bawah komando Huda Sya’rawi untuk bersama-sama melepaskan hijab (pakaian muslimah yang sempurna). Ia adalah wanita Arab pertama yang melepaskan hijab. Selanjutnya, ia diikuti oleh istri Sa’ad Zaghlul. Wanita ini bersama wanita-wanita yang sudah terperdaya melepaskan hijab dan menginjak-injaknya. Dan kisah ini berakhir dengan pembakaran baju-baju yang menjadi identitas kaum muslimah tersebut.
Kebebasan yang mereka tuju, sebenarnya malah menjerumuskan mereka dalam kenistaan. Pasalnya, tindakan tersebut merupakan awal tercampaknya kehormatan dan keutamaan mereka.
#PERLAKUAN ISLAM DAN MUSUH ISLAM TERHADAP MUSLIMAH#
Allâh Ta'âla menciptakan wanita sebagai sumber ketenangan bagi lelaki dan menjadikannya sebagai tempat penyemaian benih. Seorang wanita juga bertanggung-jawab atas rumah suaminya. Allâh Ta'âla mentakdirkannya untuk mengandung dan bertugas mendidik anak-anak. Lantaran sedemikian besar dan berat tanggung jawab tersebut, maka Allâh Ta'âla memberikan tanggung jawab kepada kaum lelaki untuk memimpin dan membimbing wanita.
Sementara itu, kaum kuffar Jahiliyyah sangat membenci keberadaan wanita di tengah mereka. Bahkan ketika seorang anak perempuan lahir, tindakan yang mereka ambil, ialah membunuh dengan cara sadis atau menguburkannya hidup-hidup. Atau membiarkannya dalam keadaan nista. Pada masa itu, wanita pun tidak mempunyai hak waris, pendapatnya tidak pernah diperhatikan. Adapun seorang lelaki, ia boleh menikahi wanita manapun yang diinginkannya. Dia pun bebas untuk menyatukan banyak wanita di pelukannya, dan bahkan bebas untuk berbuat tidak adil kepada istri-istrinya.
Kemudian Islam datang untuk menyelamatkan kaum wanita dari kezhaliman masa Jahiliyah dan memberinya hak waris. Lelaki hanya boleh menikahi sampai empat wanita saja, dengan syarat sanggup berbuat adil kepada istri-istrinya. Jika tidak mampu, maka hanya boleh menikahi satu wanita saja.
Pandangan kaum kuffar zaman ini terhadap wanita sama saja dengan masa lampau. Mereka ingin agar kaum wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang di luar kodratnya, supaya kaum wanita terlepas dari kemuliaan, kehormatannya, dan tampil menarik di hadapan para lelaki. Hingga dapat dimanfaatkan dengan harga murah dan mudah selama masih mempunyai daya tarik. Sebaliknya, jika sudah surut pesonanya, maka ia pun dipinggirkan.
#BERBUSANA MUSLIMAH HUKUMNYA WAJIB#
Persoalan hijab (busana muslimah yang sempurna) tidak membutuhkan ijtihad seorang ulama. Sebab dasar perintahnya sangat jelas terdapat dalam Al-Qur‘ân. Allâh Ta'âla berfirman :
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin
agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu.
Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs al-Ahzâb/33:59)
Ibnu Katsir rahimahullâh berkata:
"Allâh berfirman untuk memerintahkan Rasul-Nya supaya menitahkan kaum muslimah mukminah secara khusus kepada istri-istri dan putri-putri beliau untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Supaya dapat dibedakan dengan wanita-wanita jahiliyyah dan ciri khas budak-budak wanita. Yang
dimaksud dengan jilbab, yaitu kain yang berada di atas khimâr (penutup kepala)."
Syaikh as-Sa’di rahimahullâh mengatakan:
"Inilah ayat yang disebut sebagai ayat hijaab. Allâh memerintahkan Nabi-Nya supaya meminta kaum wanita (muslimah) secara umum, dan Allâh memulainya dengan penyebutan istri-istri dan putri-putri beliau. Karena mereka merupakan pihak yang paling dituntut (untuk melaksanakannya) dibandingkan wanita lainnya. Orang yang akan memerintahkan orang (wanita) lain, seyogyanya mengawalinya dari keluarganya sebelum orang lain.
Allâh Ta'âla berfirman:'Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…'
(Qs at-Tahrîm/66:6)
Artinya, di sini mereka diminta untuk menutupi wajah-wajah, leher-leher dan dada-dada mereka. Kemudian Allâh memberitahukan hikmah yang terkandung di balik aturan ini. Yakni "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu". Ini menunjukkan, munculnya gangguan itu terjadi ketika kaum wanita tidak mengenakan hijab.
#Ketika Busana Muslimah Dicampakkan#
Dewasa ini muncul busana muslimah dengan beragam corak dan mode. Bahkan terpajang di outlet-outlet penjualan yang biasanya dipenuhi baju-baju pengumbar aurat. Namun, kebanyakan busana-busana muslimah tersebut masih mempertontonkan lekuk tubuh, sempit, lagi ketat. Demikian pula aneka jilbab gaul dengan desain seperti topi yang hanya menutupi rambut belaka.
Di sisi lain, busana muslimah hanya dipakai dalam acara-acara tertentu atau kegiatan keagamaan. Misalnya hanya ketika shalat, seorang wanita muslimah berusaha menutupi tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga rambut dan kaki tidak terlihat. Namun, begitu salam telah diucapkan, maka keadaannya akan kembali seperti semula.
Mereka keluar rumah dengan mengenakan baju yang mereka sangka telah berdasarkan aturan Islam, akan tetapi kenyataannya tidak memenuhi syarat untuk menutupi aurat. Sehingga masuklah mereka ke dalam kategori “berbusana tetapi telanjang”. Seolah-olah menutup aurat hanya wajib ketika shalat semata atau sekedar kulit tidak terlihat lagi oleh mata lelaki lain. Wa ilallâhil musytaka (kepada Allâh Ta'âla lah tempat pengaduan).
إِذَا الْـمَرْأُ لَـمْ يَلْبِسْ لِبَاسًا مِنَ التُّقَى
تَقَلَّبَ عُرْيَانًا وَإِنْ كَانَ كَاسِيًا
وَ خَيْرُ لِبَاسِ الْـمَرْءِ طَاعَةُ رَبِّهِ
وَ لاَ خَيْرَ فِـيْمَنْ كَانَ عَاصِيًا
Apabila seseorang tidak mengenakan baju ketakwaan,
ia menjelma menjadi manusia telanjang kendati tubuhnya tertutupi.
Sebaik-baik pakaian adalah ketaatan kepada Rabbnya,
tiada kebaikan bagi orang yg bermaksiat
#RAHMAT ISLAM BAGI KAUM WANITA#
Kandungan ajaran Islam, secara khusus sangat memuliakan derajat kaum wanita setelah pada zaman jahiliyah berada dalam level yang sangat rendah dan hak-haknya terinjak-injak. Islam menetapkan aturan-aturan bagi dua jenis manusia, lelaki dan wanita sesuai dengan kodratnya. Islam juga menyamakan kedudukan lelaki dan wanita dalam persoalan-persoalan tertentu, dengan berkaca pada hikmah Allâh Ta’ala.
Aspek-aspek perbedaan antara keduanya pun diakomodasi dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Konsistensi kaum muslimah dalam menjalankan syariat Allâh, adab-adab Islam dan moralitasnya, itulah metode paling utama dan sarana terpenting bagi pemberdayaan kaum wanita dalam pembangunan umat dan kemajuan peradaban. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, sehingga semestinya memperoleh dukungan dan penghargaan dari seluruh umat Islam.
SLOGAN-SLOGAN MENYESATKAN BAGI KAUM MUSLIMAH
Para musuh Islam sangat berkepentingan terhadap penyelewengan kaum muslimah. Pasalnya, mereka mengetahui benar posisi strategis seorang wanita muslimah dalam pembinaan dan pembentukan generasi Islam yang kuat.
Melalui corong-corong (media massa) yang ada di negeri-negeri muslim, para musuh Islam itu melontarkan slogan-slogan yang bombastis, dalam rangka mengenyahkan kaum muslimah dari kesucian, benteng kehormatan dan peran penting pembinaan umat.
Dengan mengatas namakan tahrîrulmar‘ah (kebebasan bagi kaum Hawa), arraghbah filistifâdah min thâqatil mar‘ah (pemberdayaan kaum wanita), inshâfulmar‘ah (keadilan bagi kaum wanita/emansipasi) dan slogan-slogan yang berdalih modernisasi, para musuh Islam dan antek-anteknya mencoba memperdaya kaum muslimah.
Slogan-slogan dan propaganda-propaganda ini diarahkan kepada satu tujuan. Yakni menyeret kaum wanita Islam keluar dari manhaj syar’i, dan menyodorkannya kepada ancaman eksploitasi aurat, kenistaan, kehinaan dan fitnah. Sebagian dari kalangan muslimah ada yang bertekuk lutut menghadapi propaganda yang tampaknya baik, yakni untuk mengentaskannya dari “penderitaan”. Demikian yang dipersepsikan oleh kaum propagandis, baik dari kalangan sekularis maupun liberalis.
Orang-orang semacam ini, yang menjauhi syariat Allâh terancam dengan kehidupan yang sempit lagi menyesakkan.
Allâh Ta'âla berfirman:
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku,
maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
(Qs Thâhâ/20:124)
TRAGEDI PELUCUTAN DAN PEMBAKARAN BUSANA MUSLIMAH#
Gerakan “pembebasan” wanita sering unjuk gigi menggalang dukungan untuk menjauhkan kaum muslimah dari jati dirinya yang terhormat. Mereka melakukan demonstrasi dan menolak aturan yang menjaga kehormatan wanita. Hal itu bukan baru muncul belakangan ini, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak tahun 1919 M.
Pada waktu itu muncul demonstrasi kaum muslimah di Mesir tanggal 12 Maret 1919 di bawah komando Huda Sya’rawi untuk bersama-sama melepaskan hijab (pakaian muslimah yang sempurna). Ia adalah wanita Arab pertama yang melepaskan hijab. Selanjutnya, ia diikuti oleh istri Sa’ad Zaghlul. Wanita ini bersama wanita-wanita yang sudah terperdaya melepaskan hijab dan menginjak-injaknya. Dan kisah ini berakhir dengan pembakaran baju-baju yang menjadi identitas kaum muslimah tersebut.
Kebebasan yang mereka tuju, sebenarnya malah menjerumuskan mereka dalam kenistaan. Pasalnya, tindakan tersebut merupakan awal tercampaknya kehormatan dan keutamaan mereka.
#PERLAKUAN ISLAM DAN MUSUH ISLAM TERHADAP MUSLIMAH#
Allâh Ta'âla menciptakan wanita sebagai sumber ketenangan bagi lelaki dan menjadikannya sebagai tempat penyemaian benih. Seorang wanita juga bertanggung-jawab atas rumah suaminya. Allâh Ta'âla mentakdirkannya untuk mengandung dan bertugas mendidik anak-anak. Lantaran sedemikian besar dan berat tanggung jawab tersebut, maka Allâh Ta'âla memberikan tanggung jawab kepada kaum lelaki untuk memimpin dan membimbing wanita.
Sementara itu, kaum kuffar Jahiliyyah sangat membenci keberadaan wanita di tengah mereka. Bahkan ketika seorang anak perempuan lahir, tindakan yang mereka ambil, ialah membunuh dengan cara sadis atau menguburkannya hidup-hidup. Atau membiarkannya dalam keadaan nista. Pada masa itu, wanita pun tidak mempunyai hak waris, pendapatnya tidak pernah diperhatikan. Adapun seorang lelaki, ia boleh menikahi wanita manapun yang diinginkannya. Dia pun bebas untuk menyatukan banyak wanita di pelukannya, dan bahkan bebas untuk berbuat tidak adil kepada istri-istrinya.
Kemudian Islam datang untuk menyelamatkan kaum wanita dari kezhaliman masa Jahiliyah dan memberinya hak waris. Lelaki hanya boleh menikahi sampai empat wanita saja, dengan syarat sanggup berbuat adil kepada istri-istrinya. Jika tidak mampu, maka hanya boleh menikahi satu wanita saja.
Pandangan kaum kuffar zaman ini terhadap wanita sama saja dengan masa lampau. Mereka ingin agar kaum wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang di luar kodratnya, supaya kaum wanita terlepas dari kemuliaan, kehormatannya, dan tampil menarik di hadapan para lelaki. Hingga dapat dimanfaatkan dengan harga murah dan mudah selama masih mempunyai daya tarik. Sebaliknya, jika sudah surut pesonanya, maka ia pun dipinggirkan.
#BERBUSANA MUSLIMAH HUKUMNYA WAJIB#
Persoalan hijab (busana muslimah yang sempurna) tidak membutuhkan ijtihad seorang ulama. Sebab dasar perintahnya sangat jelas terdapat dalam Al-Qur‘ân. Allâh Ta'âla berfirman :
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin
agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu.
Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs al-Ahzâb/33:59)
Ibnu Katsir rahimahullâh berkata:
"Allâh berfirman untuk memerintahkan Rasul-Nya supaya menitahkan kaum muslimah mukminah secara khusus kepada istri-istri dan putri-putri beliau untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Supaya dapat dibedakan dengan wanita-wanita jahiliyyah dan ciri khas budak-budak wanita. Yang
dimaksud dengan jilbab, yaitu kain yang berada di atas khimâr (penutup kepala)."
Syaikh as-Sa’di rahimahullâh mengatakan:
"Inilah ayat yang disebut sebagai ayat hijaab. Allâh memerintahkan Nabi-Nya supaya meminta kaum wanita (muslimah) secara umum, dan Allâh memulainya dengan penyebutan istri-istri dan putri-putri beliau. Karena mereka merupakan pihak yang paling dituntut (untuk melaksanakannya) dibandingkan wanita lainnya. Orang yang akan memerintahkan orang (wanita) lain, seyogyanya mengawalinya dari keluarganya sebelum orang lain.
Allâh Ta'âla berfirman:'Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…'
(Qs at-Tahrîm/66:6)
Artinya, di sini mereka diminta untuk menutupi wajah-wajah, leher-leher dan dada-dada mereka. Kemudian Allâh memberitahukan hikmah yang terkandung di balik aturan ini. Yakni "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu". Ini menunjukkan, munculnya gangguan itu terjadi ketika kaum wanita tidak mengenakan hijab.
Wednesday, January 18, 2012
Jilbab - Selisih Pendapat
*Lain2*
Jilbab - Selisih Pendapat
Selisih pendapat ttg jilbab?? Mungkin coretan ini bisa membantu
- Luruskanlah niat dlm berjilbab. Menghijabkan aurat untuk ibadah. Ikhlas, semata utk menggapai ridha Allah. Bukan tujuan2 lain.
- Berjilbab bukan jaminan lebih shalihah dr yg tdk. Tapi dengan menghijabkan aurat, kau sdh tunjukkan satu ketaatanmu pd perintah Allah.
- Jilbabkan hati vs jilbabkan fisik. Islam tdk mengenal jilbabkan hati, tp tundukkan hatimu pd semua perintah Allah. Berhijab salah satunya
- Setelah kau hijabkan aurat tubuhmu, terus perbaiki dan benahi hati-mu sampai ruh dicabut saatnya nanti.
Saat proses pembenahan diri dan hanya اَللّهَ semata yg menjd tujuan, اَللّهَ akan mempertemukan hati yg " satu signal", dan efek dari itu,akan dibukakan pintu2 kemudahan dunia
- Berjilbab adalah ibadah. Dan tdk semua yg bernilai ibadah sesuai dg selera kita. Akan ada pertentangan batin. Seleramu atau selera Allah.
- Saat memilih pakaian, urutkan tujuan 1.Ibadah 2.Ahlaq 3.Kesehatan 4. Estetika. Jangan dibolak balik skala prioritas & tujuannya.
- Berjilbab adalah salah 1 jalan menuju ke arah-Nya, Allah akan menguji kesungguhan niatmu yg sebenarnya. Akan ada ujian, cobaan, godaan
- Pasca berjilbab, adakalanya datang kebimbangan. Mantapkan hati untuk selalu ingin tampil cantik di mata Allah. Dg cara yg Allah ridhai.
- Saat seorang istri bersungguh2 ingin cantik di mata Allah, dg cara-Nya Dia akan balikkan hati & mata suamimu, kau pun akan senantiasa cantik di matanya.
- Yang sudah berjilbab. Jagalah citra muslimah. Hijabkan diri dr bersentuhan dg lawan jenis. Jagalah pandangan dr hal2 syahwat.
- Yang ditetapkan adalah syarat batasan menutup auratnya. Dalam memilih tampilan diberi keleluasaan, sepanjang syarat harus terpenuhi.
- Menutup, tdk membentuk lekuk tubuh, tdk terlihat bentuk bagian tertentu, tdk transparan, tdk menyerupai laki2.
Berjilbab tapi seksi. Berjilbab tapi lekuk tubuh masih terlihat. Maka lihat kembali tujuanmu. Apakah Allah di dalamnya sbg tujuan?
Jilbab - Selisih Pendapat
Selisih pendapat ttg jilbab?? Mungkin coretan ini bisa membantu
- Luruskanlah niat dlm berjilbab. Menghijabkan aurat untuk ibadah. Ikhlas, semata utk menggapai ridha Allah. Bukan tujuan2 lain.
- Berjilbab bukan jaminan lebih shalihah dr yg tdk. Tapi dengan menghijabkan aurat, kau sdh tunjukkan satu ketaatanmu pd perintah Allah.
- Jilbabkan hati vs jilbabkan fisik. Islam tdk mengenal jilbabkan hati, tp tundukkan hatimu pd semua perintah Allah. Berhijab salah satunya
- Setelah kau hijabkan aurat tubuhmu, terus perbaiki dan benahi hati-mu sampai ruh dicabut saatnya nanti.
Saat proses pembenahan diri dan hanya اَللّهَ semata yg menjd tujuan, اَللّهَ akan mempertemukan hati yg " satu signal", dan efek dari itu,akan dibukakan pintu2 kemudahan dunia
- Berjilbab adalah ibadah. Dan tdk semua yg bernilai ibadah sesuai dg selera kita. Akan ada pertentangan batin. Seleramu atau selera Allah.
- Saat memilih pakaian, urutkan tujuan 1.Ibadah 2.Ahlaq 3.Kesehatan 4. Estetika. Jangan dibolak balik skala prioritas & tujuannya.
- Berjilbab adalah salah 1 jalan menuju ke arah-Nya, Allah akan menguji kesungguhan niatmu yg sebenarnya. Akan ada ujian, cobaan, godaan
- Pasca berjilbab, adakalanya datang kebimbangan. Mantapkan hati untuk selalu ingin tampil cantik di mata Allah. Dg cara yg Allah ridhai.
- Saat seorang istri bersungguh2 ingin cantik di mata Allah, dg cara-Nya Dia akan balikkan hati & mata suamimu, kau pun akan senantiasa cantik di matanya.
- Yang sudah berjilbab. Jagalah citra muslimah. Hijabkan diri dr bersentuhan dg lawan jenis. Jagalah pandangan dr hal2 syahwat.
- Yang ditetapkan adalah syarat batasan menutup auratnya. Dalam memilih tampilan diberi keleluasaan, sepanjang syarat harus terpenuhi.
- Menutup, tdk membentuk lekuk tubuh, tdk terlihat bentuk bagian tertentu, tdk transparan, tdk menyerupai laki2.
Berjilbab tapi seksi. Berjilbab tapi lekuk tubuh masih terlihat. Maka lihat kembali tujuanmu. Apakah Allah di dalamnya sbg tujuan?
Subscribe to:
Posts (Atom)