Showing posts with label maudhu'. Show all posts
Showing posts with label maudhu'. Show all posts

Monday, July 9, 2012

Hadits shahih atau maudhu'?

Bismillah,
"Seseorang yang mengamalkan suatu hadits yg ia tidak tahu apakah hadits tsb shahih atau tidak shahih, dan tidak pula ada panutan siapa ulama muhaddits yg dia ikuti pendapatnya, maka jika ia amalkan hadits tsb, tak ubahnya seperti orang yg mencari kayu bakar di malam hari. Jika dia beruntung maka yg diambilnya adalah kayu, namun jika dia tidak beruntung, maka yang dipegangnya (diambilnya) adalah ular yg akan mencelakainya.

Demikian juga dengan orang tadi, jika dia beruntung, hadits yg ia amalkan ternyata hasan (apalagi jika itu hadits shahih), maka Alhamdulillah. Namun jika tidak, bukan hanya sekedar dipatuk ular, namun akan mengantarkannya ke neraka jika haditsnya ternyata Palsu/Maudhu"  [Al-Hafizh As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, juz 1, Al-Qismus tsani: Al-Hasan]

Semoga bermanfaat

Friday, July 6, 2012

Hadits2 Palsu & Bathil ttg Wanita Haid

*Mamoadi*

HADITS-HADITS PALSU DAN BATIL TENTANG KEUTAMAAN WANITA HAIDH
Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

Akhir-akhir ini telah beredar di internet, atau melalui sms, email dan BM riwayat-riwayat yang cukup banyak yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan besar bagi wanita muslimah yang mengalami haidh dan amalan-amalan yang dilakukannya pada saat itu.

Di antara keutamaan-keutamaannya yang disebutkan adalah sebagai berikut:
1.Allah mengampuni semua dosa besar dan kecil yang pernah dilakukan oleh wanita yang haidh.
2.Allah tidak akan mencatat kesalahan-kesalahan wanita yang sedang haidh hingga tiba masa haidh berikutnya.
3.Allah memberikan kepada wanita yang sedang haidh pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid.
4.Allah akan membangunkan sebuah kota di dalam Surga bagi wanita yang haidh.
5.Allah akan memberikan cahaya kepada wanita yang haidh sebanyak rambut yang ada di kepala dan badannya.
6.Jika wanita yang sedang haidh itu mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.
7.Allah akan mencatat baginya pembebasan dari api neraka.
8.Allah akan memberikan kepadanya jaminan keamaan dari azab (siksaan-Nya).
9.Dan lain sebagainya.
Namun sayangnya riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan yang agung tersebut tidak ada yang benar datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan itu semua dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta dan batil oleh sebagian orang.

Berikut ini akan saya sebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan hal ini beserta terjemahannya.
HADITS PERTAMA:
(Teks asli dalam bahasa Arab bisa dibaca di: http://abufawaz.wordpress.com/ )
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang wanita mandi setelah berakhir masa haidnya, lalu ia melaksanakan sholat dua roka’at dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali pada setiap roka’atnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa besar maupun kecil yang pernah diperbuatnya, dan kesalahan-kesalahannya tidak akan dicatat (oleh Allah) hingga datang masa haidh berikutnya, dan Allah akan memberinya pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid, dan akan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam Surga, serta Allah akan memberinya cahaya sejumlah rambut yang ada di kepalanya. Dan jika ia mati karena haidnya, maka ia mati dalam keadaan syahid.”

HADITS KEDUA:
(Teks asli dalam bahasa Arab bisa dibaca di: http://abufawaz.wordpress.com/ )
Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Tidaklah seorang wanita mengalami
haidh melainkan haidnya itu akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Dan jika ia mengucapkan ketika mengalami haidh, “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haalin wa Astaghfiruka min Kulli Dzanbin”.(segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari segala dosa), maka dicatat (oleh Allah) baginya pembebasan dari api neraka, dan jaminan keamanan dari siksaan. Demikian sebagaimana yang telah lalu disebutkan bahwa wanita yang haidh apabila ia beristighfar sebanyak 70 (tujuh puluh) kali pada setiap sholat, maka dicatat baginya (pahala) seribu roka’at, dan dihapuskan darinya 70 (tujuh puluh) dosa, dan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam surga sebanyak rambut yang ada pada badannya.”
DERAJAT HADITS:
Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya PALSU dan BATIL. Karena semuanya itu dibuat dan disebarluaskan oleh para tukang cerita lalu dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta.
----------------------------------
#3
Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepalsuan dan kebatilannya adalah hal-hal berikut ini:
1.Riwayat-riwayat tersebut tidak ditemukan sama sekali di dalam
kitab-kitab hadits apa pun, baik itu  dalam kitab-kitab hadits yang enam
(Shohih, Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi,
Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah), atau dalam kitab-kitab
Al-Musnad seperti Musnad imam Ahmad, Musnad imam Asy-Syafi’i, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al-Bazzar, Musnad ‘Abd bin Humaid, atau dalam
kitab-kitab Al-Mu’jam seperti Al- Mu’jam Al-Kabir, Al-Mu’jam Al-Ausath,
Al-Mu’jam Ash-Shoghir karya imam Ath-Thobroni, atau dalam kitab-kitab
Al-Mushonnaf seperti Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf Abdurrrozzaq, atau dalam kitab-kitab hadits lainnya seperti As-Sunan Al-Kubro karya Al-Baihaqi, Al-Mustadrok karya Al-Hakim, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Darimi dan selainnya.
2.Riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki sanad hadits (rangkaian
para perowi yang meriwayatkannya) yang jelas.
3.Di dalam matan hadits tersebut terdapat kemungkaran (atau keganjilan) yang nampak jelas dilihat dari susunan kalimatnya, dan
pahala-pahala besar yang tidak pernah ada di dalam kebanyakan
hadits-hadits shohih yang menjelaskan Fadhilah amal (amalan-amalan yang memiliki keutamaan) meskipun hanya sepersepuluhnya saja.
4.Riwayat-riwayat tersebut disebutkan di dalam kitab Nuzhatu Al-Majalis Wa Muntakhobu An-Nafa-is karya Abdurrahman bin Abdussalam
Ash-Shofuri Asy-Syafi’i (wafat pada tahun 884 H). Dan beliau telah
menyebutkan dua riwayat di atas di dalam kitabnya tersebut dalam
konteks cerita, namun tanpa sanad. Dan kitabnya ini termasuk di antara
kitab-kitab Ar-Roqo-iq yang populer. (kitab Roqo-iq kandungan isinya
tentang hal-hal yang dapat melunakkan hati dan kezuhudan, pent). Di dalam kitabnya ini juga, dia acap kali menyebutkan kisah-kisah dan berita-berita tentang kehidupan orang-orang sholih sebagai kesimpulan dari pembahasan kitabnya itu.
--------------------------------
#4
Bahkan dia telah memenuhi kitabnya itu dengan hadits-hadits palsu yang didustakan atas nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan juga riwayat-riwayat dari Bani Israil yang tidak shohih.
5.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kitab-kitab
yang membahas tentang kezuhudan ini dan selainnya tidak pernah luput
dari hadits-hadits dan cerita-cerita yang DHO’IF (lemah) dan BATIL.
Dan dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim sudah dapat dipastikan adanya hal-hal itu. Akan tetapi riwayat-riwayat dho’if dan batil yang ada dalam kitab-kitab selain itu jauh lebih banyak lagi.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah XVIII/72).
Berdasarkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini, maka kita pun
menjadi sadar dan tidak heran lagi kalau akhir-akhir ini sering sekali
menjumpai atau membaca dan mendengar hadits-hadits atau
riwayat-riwayat tentang berbagai keutamaan besar untuk amalan-amalan tertentu, orang-orang tertentu, atau berita-berita di waktu mendatang yang sampai kepada kita namun tanpa sanad dan sumber yang jelas. Bahkan saking batil dan palsunya riwayat-riwayat tersebut karena memang buatan orang-orang di zaman sekarang, kita pun sangat kesulitan untuk mencari tahu sumber
aslinya di kitab apa meskipun tanpa sanad.
Ini terjadi tiada lain sebabnya karena kebodohan akan bahaya berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga siapapun bisa membuat hadits palsu sesuka hatinya, kemudian disandarkan kepada Nabi shallallahu
alaihi wasallam. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan ini
semua.
Setelah mengetahui kepalsuan dan kebatilan riwayat-riwayat di atas dan
yang semisalnya, maka sudah seharus bagi kita semua khususnya para
wanita muslimah untuk tidak meyakininya sebagai hadits Nabi, apalgi melakukan amalan-amalan yang disebutkan di dalamnya dalam rangka mencari pahala dan keutamaan.
Meskipun riwayat-riwayat tentang keutamaan wanita haidh di atas
terbukti palsu dan batil,
-------------------------------------
#5
akan tetapi para wanita muslimah janganlah berkecil hati atau merasa sedih ketika mengalami haidh, karena hal ini merupakan ketetapan Allah pada para wanita semuanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu anha yang bersedih dan menangis ketika mengalami haidh dalam perjalanan safar Haji bersama Nabi. Nabi bertanya kepada Aisyah demi menghibur dan meringankan kesedihannya, “Apakah engkau sedang mengalami haidh?” dia jawab: “iya”. Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidh ini merupakan perkara yang telah Allah tetapkan (untuk terjadi) pada para wanita.”. (HR. Bukhori I/113 no.290, dan Muslim II/870 no.1211).
Oleh karena itu, hendaknya para wanita muslimah bersabar atas
ketetapan Allah yang penuh hikmah ini, dan mengharapkan pahala
dari-Nya atas segala kesulitan dan kegelisahan yang ia rasakan selama
mengalami haidh, karena yang demikian ini termasuk dari jenis sakit
yang disebutkan dalam keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam
di dalam hadits shohih berikut ini:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ
النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »
Dari Abu sa’id Al-Khudri dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma-,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan kerumitan hidup, atau bahkan tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari V/2137 no.5318, dan Muslim IV/1990 no.2573).
--------------------------------
#6 terakhir. Maaf jika mengganggu O:)
Demikian penjelasan tentang derajat hadits-hadits tersebut di atas yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang
bermanfaat bagi kita semua. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.
Alhamdulillah, telah selesai menulis dan menyusun artikel ini pada hari Jumat pukul 15.50 wib, tanggal 13 januari 2012 di kediamannya,
Klaten – Jawa Tengah.
(Artikel ini dibuat untuk materi kajian BBG Majlis Hadits Ikhwan dan
Akhwat di room Hadits Dho’if dan Palsu. Dan diposting di blog pribadi
penulis dan Pembina BBG Majlis Hadits: http://abufawaz.wordpress.com/, PIN: 285734BB). :)

Keutamaan Membaca Surat Yasin?

*Mamoadi*

#  Keutamaan Membaca Surat Yasin #
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki jantung, dan jantungnya Al-Qur’an adalah (surat) Yasin. Barangsiapa membaca Yasin maka Allah akan mencatat baginya dengan membacanya seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”
Derajat hadits ini PALSU (Maudhu’).
Klik http://m.salamdakwah.com/baca-artikel/hadits-palsu---keutamaan-membaca-surat-yasin.html

Wednesday, January 18, 2012

Bahaya Hadits Dhoif Populer

*Khalid Basalamah*

BAHAYA HADITS DHOIF YANG POPULER!

Beberapa hadits dhoif yg sy ambil dari e-mail teman jazahullahu khairan, tapi telah terlanjur populer sbg bahan renungan agar kita bisa kembali pada hadits2 shohih yg pasti benar shngga sunnah Nabi terjaga...
Cukuplah Hadits berikut menjadi peringatan bagi kita semuanya agar lebih berhati2 dalam membawakan hadits nabi.
Dari abu hurairah, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
"Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah mempersiapkan tempat duduknya di neraka" (Hadits Mutawatir, Riwayat Bukhari, Muslim serta lainnya).

1. DOA Sebelum Makan.
" Allahuma baariklanaa fiimaa razaqtanaa, waqinaa adzaa ban-naar, Ya Allah berkahilah kami, dalam apa yang Engkau berikan rizki kepada kami, dan lindungilah kami dari adzab neraka" (HR Thabarani/888, HR Ibnu Sunni/457, HR Ibnu Adi(6/2212))
Derajat: Dhaif Jiddan (lemah sekali).
sisi cacatnya: Hisyam bin Ammar dan Ibnu Suami' yang diperbincangkan oleh para ulama, namun yang lebih parah: Ibnu Abi Zu'aiza'ah, seorang yang tertuduh berdusta dan haditsnya munkar.(lihat Takhrij Kitab Al Adzkar.

2. Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
"Surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu" (HR Ibnu Adi(1/325).
Derajat: Palsu!
Sisi Cacatnya: Musa bin Muhammad bin 'Atho, dia seorang pendusta, sebagaimana dikatan Abu Hatim, Abu Zu'ah, Ibnu Hibban dan lainnya. (lihat al silsilah adh-dhoifah, syaikh Albani)

3. Shalat Tiang Agama.
"Sholat adalah tiang agama, barang siapa yang menegakannya, bearti dia telah menegakkan agama, namun barang siapa yang meninggalkannya, maka ia bearti menghancurkan agamanya" (HR Baihaqi)
Derajat: Lemah
Sisi Lemahnya: Hadits ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad lemah dari Ikrimah, dari Umar secara Marfu'
imam Nawawi: Hadits ini Bathil.

‎​‎​4. Doa Berbuka Puasa
“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi صلی الله عليه وسلم apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)”. [Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamulKabir]
Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif
Sisi Lemahnya:  Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah.Dia ini rawi yang sangat lemah.
[1]. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if
[2]. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
[3]. Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits
[4]. Kata Imam Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits
[5]. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
[6]. Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.
Cukup Yang shahih dr hadits:
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa :
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

5. Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina
"Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina"
Riwayat ini batil.
Ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/206, Al-Khatib dalam At Tarikh IX/364 da  sebagainya, yang kesemuanya deng sanad dari Al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik radiallahu ‘anhu. Kemudian semuanya menambahkan lafazh “fainna thalabul ilmi faridatun ‘ala kulli muslimin.
‎​Ibnu Adi berkata: “Tambahan kata walaw bish Shin kami tidak mengenalinya kecuali hanya datang dari Al-Hasan bin Athiyah”. Begitu pula pernyataan Al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam Al-Fawaid.
Sisi Lemah: Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhaditsin sebagai perawi sanad yang sangat dhaif, bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan mungkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini.

6. Perselisihan Adalah Rahmat.
"Perselisihan umatku adalah rahmat."
Status Hadits: Hadits ini maudhu' (hadits palsu).
Para ulama hadits telah mencari sanad (mata rantai perawi) hadits ini ternyata tidak menemukan. Imam As-Subki berkata: Hadits ini tidak dikenal (sanadnya) oleh ulama hadits. Saya pribadi tidak menemukan hadits ini baik dengan sanad yang shahih, hasan atau dhaif. Dalam istilah ulama, apabila sebuah hadits tidak ada sanadnya, maka hadits itu disebut "laa ashla lahu" (tidak diketahui asalnya), sama dengan istilah "hadits palsu.