*Abu Riyadl*
Nifaq ada dua macam: nifaq i’tiqadi dan nifaq ‘amali.
1. Nifaq i’tiqadi(keyakinan):
Telah disebutkan di dalam Al Qur’an di beberapa tempat. Dan Allah Ta'ala akan memasukkan pelakunya dengan sebab nifaq ini ke dasar neraka yang paling bawah.
2.Nifaq ‘amali(perbuatan):
sebagaimana yang telah disebutkan di dalam sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam:
(( أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا , وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ , وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ , وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ , وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ )) (رواه البخاري ومسلم)
“Empat hal apabila terdapat pada diri seseorang maka dia menjadi seorang munafiq tulen, dan jika terdapat padanya satu di antara empat hal tersebut, maka pada dirinya terdapat satu tanda kemunafikan hingga dia meninggalkannya: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji mengingkari, jika berselisih dia berbuat curang, dan jika dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan sebagaimana sabda beliau:
(( آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ , وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ , وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ )) (رواه البخاري)
“Tanda seorang munafik ada tiga: jika berbicara maka dia berdusta, jika berjanji maka dia mengingkari, dan jika dipercaya maka dia berkhianat.” (HR Bukhari.
By. www.abu-riyadl.blogspot.com
Adapun nifaq I'tiqodi maka ia telah dikeluarkan dari agama islam.
Namun nifaq 'amali ia merupakan dosa besar, yg mana orang yg terjangkitinya akan lemah imannya. Dan urusannya diakhirat kelak ditangan Allah ta'ala, jika Allah mengampuninya maka ia langsung masuk surga namun jika Allah berkehendak mengadzabnya maka Allah akan memasukkannya ke neraka. Naudzubillah min dzalik
Wednesday, January 9, 2013
Wudhu Dengan Air Dingin
*Abu Riyadl*
PAHALA MENYEMPURNAKAN WUDHU
DENGAN AIR YANG DINGIN
عَنْ جابر بن عبد الله قال : قال رسول الله : أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا ويكفر الذنوب؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكروهاتِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاة)) < رواه ابن حبان في (( صحيحه)) (1036), وأصله عند مسلم ( 152)
Dari Jabir bin `Abdillah telah berkata: Rasulullah shalallhu alaihi wasalam telah bersabda: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan apa-apa yang Allah menghilangkan dengannya kesalahan-kesalahan dan menghapuskan dosa-dosa?, Mereka menjawab: Tentu wahai Rasulullah, Rasulullah shalallhu alaihi wasalam menjawab: Menyempurnakan wudhu atas hal yang makruhat (yang dibenci), memperbanyak jalan menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat”. (HR Ibnu Hibban: 1036 dan Muslim :251)
Semoga dapat menambah kekuatan kita dalam mendekatkan diri kpd Allah.
Menyempurnakan wudhu atas hal yang makruhat (yang dibenci),
Masudnya : tetap kita menyempurnakan wudhu kita walaupun air dingin itu kita benci memakainnya di cuaca dingin. Selama tidak membayakan diri kita temtunya.
PAHALA MENYEMPURNAKAN WUDHU
DENGAN AIR YANG DINGIN
عَنْ جابر بن عبد الله قال : قال رسول الله : أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا ويكفر الذنوب؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكروهاتِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاة)) < رواه ابن حبان في (( صحيحه)) (1036), وأصله عند مسلم ( 152)
Dari Jabir bin `Abdillah telah berkata: Rasulullah shalallhu alaihi wasalam telah bersabda: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan apa-apa yang Allah menghilangkan dengannya kesalahan-kesalahan dan menghapuskan dosa-dosa?, Mereka menjawab: Tentu wahai Rasulullah, Rasulullah shalallhu alaihi wasalam menjawab: Menyempurnakan wudhu atas hal yang makruhat (yang dibenci), memperbanyak jalan menuju masjid, menunggu shalat setelah shalat”. (HR Ibnu Hibban: 1036 dan Muslim :251)
Semoga dapat menambah kekuatan kita dalam mendekatkan diri kpd Allah.
Menyempurnakan wudhu atas hal yang makruhat (yang dibenci),
Masudnya : tetap kita menyempurnakan wudhu kita walaupun air dingin itu kita benci memakainnya di cuaca dingin. Selama tidak membayakan diri kita temtunya.
Pahala Shalat Isya dan Subuh Berjama'ah
*Abu Riyadl*
Allah ta'ala berfirman yang artinya :
وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا {78}
“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. al-Isra` :78)
Ahli tafsir berkata maksudnya adalah shalat shubuh yang disaksikan oleh malaikat malam hari dan siang hari.
عن عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ. رواه مسلم و أبو داود و الترمذي و لفظهما مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كقيام نصف ليلة ، ومن صل العشاء والفجر في جماعة كان كقيام ليلة
Dari Utsman bin `Affan telah berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “ Barang siapa yang menegakkan shalat isya secara berjamaah maka seakan-akan dia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR Muslim dan Abu Dawud dan Tirmidzi, dan lafadz dari keduanya adalah: Barang siapa yang mengerjakan shalat isya secara berjamaah seakan-akan dia menegakkan shalat separuh malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat isya dan shalat subuh secara berjamaah seakan-akan dia mengerjakan shalat malam semalam suntuk ( HR Muslim : 656, Abu Dawud :555, Tirmidzi :221).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوا......... ( رواه البخاري (657), و مسلم (651))
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah besabda: Shalat yang memberatkan bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh, seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya pasti akan mendatanginya walaupun harus merangkak...HR. Bukhori&Muslim.
Subhanallah.. Wahai saudaraku.. Jangan engkau lewatkan kesempatan emas ini.
Oleh:
www. abu-riyadl.blogspot.com
Allah ta'ala berfirman yang artinya :
وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا {78}
“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. al-Isra` :78)
Ahli tafsir berkata maksudnya adalah shalat shubuh yang disaksikan oleh malaikat malam hari dan siang hari.
عن عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ. رواه مسلم و أبو داود و الترمذي و لفظهما مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كقيام نصف ليلة ، ومن صل العشاء والفجر في جماعة كان كقيام ليلة
Dari Utsman bin `Affan telah berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “ Barang siapa yang menegakkan shalat isya secara berjamaah maka seakan-akan dia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR Muslim dan Abu Dawud dan Tirmidzi, dan lafadz dari keduanya adalah: Barang siapa yang mengerjakan shalat isya secara berjamaah seakan-akan dia menegakkan shalat separuh malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat isya dan shalat subuh secara berjamaah seakan-akan dia mengerjakan shalat malam semalam suntuk ( HR Muslim : 656, Abu Dawud :555, Tirmidzi :221).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوا......... ( رواه البخاري (657), و مسلم (651))
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah besabda: Shalat yang memberatkan bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh, seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya pasti akan mendatanginya walaupun harus merangkak...HR. Bukhori&Muslim.
Subhanallah.. Wahai saudaraku.. Jangan engkau lewatkan kesempatan emas ini.
Oleh:
www. abu-riyadl.blogspot.com
Hutang
*Abu Riyadl*
Hutang hukumnya mubah..
namun jika kita mampu untuk segera melunasinya, maka bergegaslah, apalagi jika hutang tersebut telah jatuh tempo
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "مَطْل الغنيِّ ظلم. وإذا أُتْبع أحدكم على مَلِئٍ فليَتْبع" متفق عليه.
Penundaan pembayaran hutang oleh orang-orang yang mampu adalah suatu kezhaliman. Dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya" [Al-Bukhari III/55, 85 Muslim III/1197 nomor 1564,]
Ketahuilah jika salah seorang diantara kita meninggal dunia dalam kondisi berhutang, bisa jadi hutang tersebut disepelekan oleh pewaris kita, dan nantinya ia akan menjadi beban kita dihari akhirat.
Ketahuilah wahai saudaraku, jika engkau menyepelekan hutang maka ia merupkan kehinaan disiang hari dan fikiran dimalam hari, kemudian beban di akhirat nanti
DOA AGAR BISA MELUNASI UTANG
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.” HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” HR. Al-Bukhari 7/158.
By. Abu riyadl
www.abu-riyadl.blogspot.com
Hutang hukumnya mubah..
namun jika kita mampu untuk segera melunasinya, maka bergegaslah, apalagi jika hutang tersebut telah jatuh tempo
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "مَطْل الغنيِّ ظلم. وإذا أُتْبع أحدكم على مَلِئٍ فليَتْبع" متفق عليه.
Penundaan pembayaran hutang oleh orang-orang yang mampu adalah suatu kezhaliman. Dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya" [Al-Bukhari III/55, 85 Muslim III/1197 nomor 1564,]
Ketahuilah jika salah seorang diantara kita meninggal dunia dalam kondisi berhutang, bisa jadi hutang tersebut disepelekan oleh pewaris kita, dan nantinya ia akan menjadi beban kita dihari akhirat.
Ketahuilah wahai saudaraku, jika engkau menyepelekan hutang maka ia merupkan kehinaan disiang hari dan fikiran dimalam hari, kemudian beban di akhirat nanti
DOA AGAR BISA MELUNASI UTANG
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.” HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” HR. Al-Bukhari 7/158.
By. Abu riyadl
www.abu-riyadl.blogspot.com
Do'a Penawar Hati Yang Duka
*Abu Riyadl*
DOA PENAWAR HATI YANG DUKA
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.” [137] HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمُ.
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Pengampun. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai arasy, yang Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang menguasai arasy, lagi Maha Mulia.” HR. Al-Bukhari 7/154, Muslim 4/2092.
اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
“Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42. Menurut pendapat Al-Albani, hadits di atas adalah hasan dalam Shahih Abu Dawud 3/959
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zhalim.” HR. At-Tirmidzi 5/529 dan Al-Hakim. Menurut pendapatnya yang disetujui oleh Adz-Dzahabi: Hadits tersebut adalah shahih 1/505, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/168
DOA PENAWAR HATI YANG DUKA
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.” [137] HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمُ.
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Pengampun. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai arasy, yang Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang menguasai arasy, lagi Maha Mulia.” HR. Al-Bukhari 7/154, Muslim 4/2092.
اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
“Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42. Menurut pendapat Al-Albani, hadits di atas adalah hasan dalam Shahih Abu Dawud 3/959
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zhalim.” HR. At-Tirmidzi 5/529 dan Al-Hakim. Menurut pendapatnya yang disetujui oleh Adz-Dzahabi: Hadits tersebut adalah shahih 1/505, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/168
Hukum Meratakan Gigi
*Abu Riyadl*
Hukum Meratakan Gigi
سئل الشيخ صالح الفوزان عن تقويم الأسنان فقال : إذا احتيج إلى هذا كأن يكون في الأسنان تشويه واحتيج إلى إصلاحها فهذا لا بأس به ،
Syeikh Shalih al Fauzan pernah ditanya tentang hukum meratakan gigi. Jawaban beliau, “Jika ada kebutuhan untuk meratakan gigi semisal susunan gigi nampak jelek sehingga perlu diratakan maka hukumnya tidak mengapa (baca:mubah).
أما إذا لم يُحتج إلى هذا فهو لا يجوز ، بل جاء النهي عن وشر الأسنان وتفليجها للحسن وجاء الوعيد على ذلك لأن هذا من العبث ومن تغيير خلق الله .
Namun jika tidak ada kebutuhan untuk mengotak-atik gigi maka mengotak-atik gigi hukumnya tidak boleh. Bahkan terdapat larangan meruncingkan dan mengikir gigi agar nampak indah. Terdapat ancaman keras atas tindakan ini karena hal ini adalah suatu yang sia-sia dan termasuk mengubah ciptaan Allah.
أما إذا كان هذا لعلاج مثلاً أو لإزالة تشويه أو لحاجة لذلك كأن لا يتمكن الإنسان من الأكل إلا بإصلاح الأسنان وتعديلها فلا بأس بذلك .
Jadi mengotak-atik gigi dengan tujuan pengobatan, menghilangkan penampilan gigi yang jelek atau ada kebutuhan yang lain semisal seorang itu tidak bisa makan dengan baik kecuali jika susunan gigi diperbaiki dan ditata ulang maka hal tersebut hukumnya tidak mengapa.
أما إزالة الأسنان الزائدة فقال الشيخ ابن جبرين : لا بأس بخلع السن الزائد لأنه يشوه المنظر ويضيق منه الإنسان … ، ولا يجوز التفليج ولا الوشر للنهي عنه .
Tentang menghilangkan gigi yang ‘berlebih’ Syeikh Ibnu Jibrin mengatakan, “Tidaklah mengapa mencopot gigi yang ‘berlebih’ karena keberadaan gigi tersebut merusak penampilan sehingga orang yang mengalami tidak merasa PD. Namun tidak diperbolehkan mengikir dan meruncingkan gigi karena hal tersebut terlarang”.
انظر كتاب فتاوى المرأة المسلمة ج/1 ص/477 .
Baca buku Fatawa al Mar’ah al Muslimah jilid 1 hal 477.
www.abu-riyadl.blogspot.com
Merubah tampilan yg cacat itu boleh. Namun tidak diperbolehkan merubah ciptaan Allah yg ada pada diri kita jika telah normal dan wajar dg memodifikasi yg tidak sesuai tabiatnya.
Hukum Meratakan Gigi
سئل الشيخ صالح الفوزان عن تقويم الأسنان فقال : إذا احتيج إلى هذا كأن يكون في الأسنان تشويه واحتيج إلى إصلاحها فهذا لا بأس به ،
Syeikh Shalih al Fauzan pernah ditanya tentang hukum meratakan gigi. Jawaban beliau, “Jika ada kebutuhan untuk meratakan gigi semisal susunan gigi nampak jelek sehingga perlu diratakan maka hukumnya tidak mengapa (baca:mubah).
أما إذا لم يُحتج إلى هذا فهو لا يجوز ، بل جاء النهي عن وشر الأسنان وتفليجها للحسن وجاء الوعيد على ذلك لأن هذا من العبث ومن تغيير خلق الله .
Namun jika tidak ada kebutuhan untuk mengotak-atik gigi maka mengotak-atik gigi hukumnya tidak boleh. Bahkan terdapat larangan meruncingkan dan mengikir gigi agar nampak indah. Terdapat ancaman keras atas tindakan ini karena hal ini adalah suatu yang sia-sia dan termasuk mengubah ciptaan Allah.
أما إذا كان هذا لعلاج مثلاً أو لإزالة تشويه أو لحاجة لذلك كأن لا يتمكن الإنسان من الأكل إلا بإصلاح الأسنان وتعديلها فلا بأس بذلك .
Jadi mengotak-atik gigi dengan tujuan pengobatan, menghilangkan penampilan gigi yang jelek atau ada kebutuhan yang lain semisal seorang itu tidak bisa makan dengan baik kecuali jika susunan gigi diperbaiki dan ditata ulang maka hal tersebut hukumnya tidak mengapa.
أما إزالة الأسنان الزائدة فقال الشيخ ابن جبرين : لا بأس بخلع السن الزائد لأنه يشوه المنظر ويضيق منه الإنسان … ، ولا يجوز التفليج ولا الوشر للنهي عنه .
Tentang menghilangkan gigi yang ‘berlebih’ Syeikh Ibnu Jibrin mengatakan, “Tidaklah mengapa mencopot gigi yang ‘berlebih’ karena keberadaan gigi tersebut merusak penampilan sehingga orang yang mengalami tidak merasa PD. Namun tidak diperbolehkan mengikir dan meruncingkan gigi karena hal tersebut terlarang”.
انظر كتاب فتاوى المرأة المسلمة ج/1 ص/477 .
Baca buku Fatawa al Mar’ah al Muslimah jilid 1 hal 477.
www.abu-riyadl.blogspot.com
Merubah tampilan yg cacat itu boleh. Namun tidak diperbolehkan merubah ciptaan Allah yg ada pada diri kita jika telah normal dan wajar dg memodifikasi yg tidak sesuai tabiatnya.
Penghalang Do'a Mustajab
*Abu Riyadl*
Salah satu penghalang doa’ mustajab adalah
Meninggalkan amar ma’ruf & nahi munkar
Dari Huzaifah bin Al-Yaman dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jika tidak maka niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian seluruhnya, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. At-Tirmizi no. 2169 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7070)
amar ma’ruf & nahi munkar tidak boleh dilakukan dg sembrono...
harus dengan ilmu,,, dan ilmu tidak akan diperoleh kecuali dg mencarinya...
www.abu-riyadl.blogspot.com
Salah satu penghalang doa’ mustajab adalah
Meninggalkan amar ma’ruf & nahi munkar
Dari Huzaifah bin Al-Yaman dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jika tidak maka niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian seluruhnya, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. At-Tirmizi no. 2169 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7070)
amar ma’ruf & nahi munkar tidak boleh dilakukan dg sembrono...
harus dengan ilmu,,, dan ilmu tidak akan diperoleh kecuali dg mencarinya...
www.abu-riyadl.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)