*Abu Ayaz*
Bismillah,
Ketika Yazid Ar-Raqasy rahimahullah mendekati ajalnya, tampak tangisan dari beliau.
Saat ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab :
“Demi Allah, saya menangisi segala hal yang telah saya telantarkan berupa shalat lail dan puasa pada siang hari.”
Beliau juga berkata :
“… Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian tertipu dengan waktu muda kalian. Sungguh, bila sesuatu yang menimpaku, berupa kedahsyatan perkara (kematian) dan beratnya kepedihan maut, telah menimpa kalian, pastilah (kalian) hanya (akan berpikir) untuk keselamatan dan keselamatan, untuk kehati-hatian dan kehati-hatian. Bersegeralah, wahai saudara-saudaraku –semoga Allah merahmati kalian-.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya 65/92.]
Monday, August 20, 2012
Jangan Menyia-nyiakan Waktu
*Abu Ayaz*
Ibnul jauzy berkata:
“Saya melihat banyak sekali manusia yang mempergunakan waktu untuk hal-hal yang sangat tidak berguna. Malam yang begitu panjang mereka gunakan untuk membicarakan hal-hal yang sangat tidak berguna atau membaca tulisan-tulisan yang tidak ada nilainya. Siang nan panjang justru digunakan untuk tidur. Kalaupun beraktifitas, di siang hari mereka hanya berjalan-jalan atau hanya berkeliling pasar.
Saya memandang mereka seperti orang-orang yang sedang berbincang-bincang di atas perahu, sedangkan perahu yang mereka tumpangi menyeret mereka entah ke mana, namun hal itu tidak disadari. Jarang sekali orang yang saya lihat paham akan makna kehidupan ini dan mempersiapkan bekal untuk menjalani perjalanan abadi. Keadaan manusia sungguh berbeda-beda. Perbedaan terjadi akibat perbedaan taraf ilmu dan wawasan yang mereka miliki.
Di antara manusia, orang-orang yang memiliki kesadaran akan makna hidup selalu mencari tahu dan memperbanyak bekal untuk perjalanannya yang abadi, hingga mereka memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Adapun yang lalai, mereka membawa bekal sekedarnya, atau mungkin keluar dari negerinya tanpa satu tempat bekal apapun. Alangkah banyaknya orang-orang yang berjalan dan telah melalui jalan yang panjang, namun tetap tidak beroleh bekal apa-apa.
Oleh sebab itu, pergunakanlah setiap detik umur anda dan bersegeralah sebelum kesempatan itu lenyap. Carilah ilmu, carilah hikmah, berlombalah dengan waktu, lawanlah nafsu dan carilah bekal sebanyak-banyaknya. Tatkala semuanya telah terlambat, tak akan berguna lagi penyesalan bagi anda.”
[Terjemah “Shoidul Khotir” karya Ibnul Jauzy].
Semoga bermanfaat
Ibnul jauzy berkata:
“Saya melihat banyak sekali manusia yang mempergunakan waktu untuk hal-hal yang sangat tidak berguna. Malam yang begitu panjang mereka gunakan untuk membicarakan hal-hal yang sangat tidak berguna atau membaca tulisan-tulisan yang tidak ada nilainya. Siang nan panjang justru digunakan untuk tidur. Kalaupun beraktifitas, di siang hari mereka hanya berjalan-jalan atau hanya berkeliling pasar.
Saya memandang mereka seperti orang-orang yang sedang berbincang-bincang di atas perahu, sedangkan perahu yang mereka tumpangi menyeret mereka entah ke mana, namun hal itu tidak disadari. Jarang sekali orang yang saya lihat paham akan makna kehidupan ini dan mempersiapkan bekal untuk menjalani perjalanan abadi. Keadaan manusia sungguh berbeda-beda. Perbedaan terjadi akibat perbedaan taraf ilmu dan wawasan yang mereka miliki.
Di antara manusia, orang-orang yang memiliki kesadaran akan makna hidup selalu mencari tahu dan memperbanyak bekal untuk perjalanannya yang abadi, hingga mereka memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Adapun yang lalai, mereka membawa bekal sekedarnya, atau mungkin keluar dari negerinya tanpa satu tempat bekal apapun. Alangkah banyaknya orang-orang yang berjalan dan telah melalui jalan yang panjang, namun tetap tidak beroleh bekal apa-apa.
Oleh sebab itu, pergunakanlah setiap detik umur anda dan bersegeralah sebelum kesempatan itu lenyap. Carilah ilmu, carilah hikmah, berlombalah dengan waktu, lawanlah nafsu dan carilah bekal sebanyak-banyaknya. Tatkala semuanya telah terlambat, tak akan berguna lagi penyesalan bagi anda.”
[Terjemah “Shoidul Khotir” karya Ibnul Jauzy].
Semoga bermanfaat
Mengetahui Kadar Agama Seseorang
*Abu Ayaz*
Syaikh Abdurrahman As Sa'di rahimahullah berkata,
"Termasuk kesalahan yang berat adalah langsung menerima perkataan sebagian orang yang memburuk burukkan orang lain, lalu membangun cinta dan benci serta pujian dan celaan di atasnya.
Berapa banyak kesalahan yang terjadi yang berakibat kepada penyesalan.
Berapa banyak berita yang disebarkan oleh manusia ternyata tidak demikian kenyataannya.
Kewajiban orang yang berakal adalah memeriksa, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.
Dengan inilah dapat diketahui kadar agama, kedewasaan dan akal seseorang."
[Ar Riyadl An Nadlirah hal 209 dinukil dari kutaib Husnuzan binnas karya Abdul Malik Ramadlani].
[Ust. Badrusalam, BB group Al Ilmu]
Semoga bermanfaat.
Syaikh Abdurrahman As Sa'di rahimahullah berkata,
"Termasuk kesalahan yang berat adalah langsung menerima perkataan sebagian orang yang memburuk burukkan orang lain, lalu membangun cinta dan benci serta pujian dan celaan di atasnya.
Berapa banyak kesalahan yang terjadi yang berakibat kepada penyesalan.
Berapa banyak berita yang disebarkan oleh manusia ternyata tidak demikian kenyataannya.
Kewajiban orang yang berakal adalah memeriksa, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.
Dengan inilah dapat diketahui kadar agama, kedewasaan dan akal seseorang."
[Ar Riyadl An Nadlirah hal 209 dinukil dari kutaib Husnuzan binnas karya Abdul Malik Ramadlani].
[Ust. Badrusalam, BB group Al Ilmu]
Semoga bermanfaat.
Kaidah Berdzikir
*Abu Ayaz*
1. Dzikir & do'a adalah ibadah yg bersifat tauqifiyah, yg disyaratkan padanya ikhlas & sesuai dg contoh dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم.
2. Dibedakan antara dzikir yg mutlak dg dzikir yg muqayyad.
Dzikir/do'a yg muqayyad (yg telah ditentukan) waktunya, tempat, tata cara, jumlah, sebab & jenisnya, tak boleh diubah-ubah.
Dan dzikir/do'a yg mutlak (tak ditentukan) dalam enam perkara di atas, tak boleh menentukan sendiri tata-caranya, waktunya, dst kecuali dg dalil.
3. Do'a yg tak berasal dari Nabi diperbolehkan dengan syarat:
A. Memlih lafadz yg paling bagus.
B. Tak mengandung sesuatu yg terlarang.
C. Hanya pada dzikir/do'a mutlak saja.
D. Tak boleh dijadikan sebagai sunnah atau rutinitas.
4. Setiap dzikir/do'a yg mempunyai lebih dari satu macam lafadz seperti do'a istiftah, bacaan ruku' & sujud, shalawat, maka tak boleh dibaca sekaligus, namun dibaca terkadang dg ini & terkadang dg itu.
5. Setiap dzikir/do'a yg banyak macamnya dari suatu waktu, maka boleh dibaca semuanya seperti do'a pagi & petang.
6. Pada asalnya dzikir/do'a adalah dibaca dg lirih, kecuali yg ditunjukkan dalil boleh mengeraskannya atau disyari'atkan dg keras, seperti adzan, takbir hari raya dsb.
7. Setiap perbuatan yg haram atau makruh tak boleh dimulai dg dzikir/do'a.
[diringkas dari kitab Tashih ad- Du'a karya syaikh Bakr Abu Zaid]
1. Dzikir & do'a adalah ibadah yg bersifat tauqifiyah, yg disyaratkan padanya ikhlas & sesuai dg contoh dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم.
2. Dibedakan antara dzikir yg mutlak dg dzikir yg muqayyad.
Dzikir/do'a yg muqayyad (yg telah ditentukan) waktunya, tempat, tata cara, jumlah, sebab & jenisnya, tak boleh diubah-ubah.
Dan dzikir/do'a yg mutlak (tak ditentukan) dalam enam perkara di atas, tak boleh menentukan sendiri tata-caranya, waktunya, dst kecuali dg dalil.
3. Do'a yg tak berasal dari Nabi diperbolehkan dengan syarat:
A. Memlih lafadz yg paling bagus.
B. Tak mengandung sesuatu yg terlarang.
C. Hanya pada dzikir/do'a mutlak saja.
D. Tak boleh dijadikan sebagai sunnah atau rutinitas.
4. Setiap dzikir/do'a yg mempunyai lebih dari satu macam lafadz seperti do'a istiftah, bacaan ruku' & sujud, shalawat, maka tak boleh dibaca sekaligus, namun dibaca terkadang dg ini & terkadang dg itu.
5. Setiap dzikir/do'a yg banyak macamnya dari suatu waktu, maka boleh dibaca semuanya seperti do'a pagi & petang.
6. Pada asalnya dzikir/do'a adalah dibaca dg lirih, kecuali yg ditunjukkan dalil boleh mengeraskannya atau disyari'atkan dg keras, seperti adzan, takbir hari raya dsb.
7. Setiap perbuatan yg haram atau makruh tak boleh dimulai dg dzikir/do'a.
[diringkas dari kitab Tashih ad- Du'a karya syaikh Bakr Abu Zaid]
Manusia Yg Paling Berat Ujiannya
*Abu Ayaz*
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Semoga bermanfaat.
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Semoga bermanfaat.
Menyoal Panggilan Bro dan Sis
*Abu Ayaz*
“Gimana kabarnya ni bro?”
“Wah sist ini, makin eksis aja ni!”
Istilah “bro” dan “sist” memang sedang ngetren sekarang ini. Semua juga sudah tahu ini adalah singkatan dari “brother” dan “sister”. Sesama teman memanggil dengan istilah ini, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal, sehingga ini sudah menjadi semacam kata sapaan. Akan tetapi perlu diperhatikan, sebaiknya kita berhati-hati, jangan memanggil dengan sapaan ini terhadap orang kafir karena kita memang tidak bersaudara sama sekali dengan mereka. Ini juga menunjukkan al-wala [loyalitas] dan Al-bara [berlepas diri] kita sebagai seorang muslim.
Hal ini jelas karena yang berhak dipanggil saudara adalah sesama muslim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” [QS. Al-Hujurat : 10]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسلم أخو المسلم
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya [HR. Muslim].
Dan kita diperintahkan berlepas diri [Al-Bara] terhadap orang kafir.
Untuk lebih lengkapnya pembahasan masalah ini, silahkan lihat link ini :
http://abxayaz.blogspot.com/2012/04/menyoal-pangilan-bro-dan-sist.html?m=1
Semoga bermanfaat.
“Gimana kabarnya ni bro?”
“Wah sist ini, makin eksis aja ni!”
Istilah “bro” dan “sist” memang sedang ngetren sekarang ini. Semua juga sudah tahu ini adalah singkatan dari “brother” dan “sister”. Sesama teman memanggil dengan istilah ini, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal, sehingga ini sudah menjadi semacam kata sapaan. Akan tetapi perlu diperhatikan, sebaiknya kita berhati-hati, jangan memanggil dengan sapaan ini terhadap orang kafir karena kita memang tidak bersaudara sama sekali dengan mereka. Ini juga menunjukkan al-wala [loyalitas] dan Al-bara [berlepas diri] kita sebagai seorang muslim.
Hal ini jelas karena yang berhak dipanggil saudara adalah sesama muslim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” [QS. Al-Hujurat : 10]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسلم أخو المسلم
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya [HR. Muslim].
Dan kita diperintahkan berlepas diri [Al-Bara] terhadap orang kafir.
Untuk lebih lengkapnya pembahasan masalah ini, silahkan lihat link ini :
http://abxayaz.blogspot.com/2012/04/menyoal-pangilan-bro-dan-sist.html?m=1
Semoga bermanfaat.
Bila HP berbunyi ketika shalat
*Abu Ayaz*
#Bila HandPhone berbunyi Ketika Shalat#
Apa yang semestinya dilakukan bila handphone kita berbunyi karena ada yang menelpon ketika kita sedang shalat? Menjawab telepon? Mengambilnya dari kantong lalu mematikannya? Bagaimana bila telepon rumah? Membatalkan shalat? Atau dibiarkan saja berbunyi sampai mati sendiri?
Silahkan baca beberapa penjelasan para ulama berikut disini :
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bila-handphone-berbunyi-ketika-shalat.html
Semoga bermanfaat.
#Bila HandPhone berbunyi Ketika Shalat#
Apa yang semestinya dilakukan bila handphone kita berbunyi karena ada yang menelpon ketika kita sedang shalat? Menjawab telepon? Mengambilnya dari kantong lalu mematikannya? Bagaimana bila telepon rumah? Membatalkan shalat? Atau dibiarkan saja berbunyi sampai mati sendiri?
Silahkan baca beberapa penjelasan para ulama berikut disini :
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bila-handphone-berbunyi-ketika-shalat.html
Semoga bermanfaat.
Subscribe to:
Posts (Atom)