Sunday, July 21, 2013

Jika Paham Syiah Kafir, Mengapa Masih Diizinkan Berhaji?

(Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/jika-aliran-syiah-kafir-mengapa-masih-diizinkan-berhaji/#)

Jika Paham Syiah Kafir, Mengapa Masih Diizinkan Berhaji?

Assalamu’alaykum.. Ustadz, apakah masih bolehnya orang syiah berhaji ke mekkah bisa menjadi dasar bahw syiah tidak kafir, krn orang kafir tdk boleh masuk mekkah. Apakah syiah zaidiyyah dan ja’fariyah masih bagian dari islam? Apakah syiah Rafidhah telah kafir secara mutlak? Mhn penjelasan. Syukron.
Dari: Abu Tsuraya
Jawaban:
Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertanyaan ini mungkin menjadi tanda tanya besar sebagian orang. Bahkan umumnya kaum muslimin yang membaca berita tentang syiah, bertanya-tanya tentang hal ini. Jika memang syiah kafir, mengapa masih diizinkan untuk berhaji? Mengapa masih diizinkan untuk masuk masjidil haram? dst.
Dan mungkin karena alasan inilah, sebagian orang meragukan kekufuran syiah. Benarkah syiah itu kafir? Sebagian mengatakan kafir, sebagian belum tega menyatakan kafir. Namun, dengan munculnya perbedaan ini pada kaum muslimin, setidaknya kita bisa berkesimpulan sejatinya kaum muslimin telah sepakat bahwa syiah adalah sesat. Ini bagian penting yang perlu kita catat.
Kita beralih pada inti pertanyaan, jika syiah kafir, mengapa syiah masih diizinkan untuk berhaji dan mendatangi tanah suci?
Ada beberapa pendekatan untuk menjawab pertanyaan ini,
Pertama, kaum muslimin sepakat bahwa syiah adalah sesat. Kami tidak perlu menyebutkan bukti akan hal ini, karena sudah terlalu banyak. Dan kesesatan syiah bertingkat-tingkat. Karena sekte syiah terpecah berkeping-keping menjadi sekian banyak sekte. Ada yang mendekati ahlus sunah, ada yang pertengahan, bahkan ada yang memiliki ajaran berbeda dengan berbagai prinsip ajaran islam.
Diantara sekte syiah yang dinyatakan paling dekat dengan ajaran islam dari pada sekte lainnya adalah syiah zaidiyah, yang banyak tersebar di yaman. Sekte ini tidak mengkafirkan sahabat, dan banyak bersebarangan dengan sekte imamiyah di Iran, karena itu ada sebagian orang yang menolak bahwa zaidiyah termasuk syiah. (simak Al-Farq baina Al-Firaq, 1/15).
Disamping itu, tidak semua orang syiah paham tentang islam dan inti ajaran islam. Bahkan bisa jadi, sebagian besar hanyalah korban ideologi sesat. Sebagaimana layaknya PKI masa silam. Kita yakin, tidak semua para petani tebu paham apa itu komunis, tahunya hanya ikut kumpul-kumpul dan dipanasi untuk melawan pemerintah.
Kami menduga kuat, sebagian besar orang syiah hanya korban ideologi. Masyarakat syiah sampang, bisa jadi, mereka sama sekali tidak paham dan tidak tahu menahu apa itu syiah, apa itu aqidah imamiyah. Mereka hanya didoktrin: cinta ahlul bait.. cinta ahlul bait… dan selain mereka membenci ahlul bait. Anda bisa menyimak pengakuan mereka di: Taubatnya 3 Wanita Syiah . Karena itulah, iran menjadi negara yang sangat eksklusif. Tidak semua chanel TV bisa diakses di iran. Karena pemerintah sangat khawatir, masyarakatnya terpengaruh dengan dakwah islam yang disiarkan melalui satelit. Demikian informasi yang saya dengar dari salah seorang doktor dari Universitas islam madinah.
Karena itulah, perlu dirinci antara hukum untuk sekte dan hukum untuk penganut sekte. Para ulama membedakan antara hukum untuk sekte syiah dan hukum untuk penganut sekte syiah. Sekte syiah yang mengajarkan prinsip yang bertentangan dengan inti ajaran islam, seperti mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan beberapa sahabat lainnya. Atau menuduh A’isyah radhiyallahu ‘anha berzina. Sekte semacam ini dihukumi kafir. Karena dengan prinsip ini, menyebabkan orang murtad.
Demikian pula hukum untuk penganut syiah. Pendapat yang tepat dalam hal ini, tidak menyama-ratakan hukum mereka. Bisa jadi ada sebagian diantara mereka yang memahami bahwa seperti itulah islam. Seperti kesaksian 3 wanita syiah yang taubat di atas.
Lebih dari itu, mereka yang datang ke tanah suci, tidak diketahui dengan pasti aqidahnya. Mereka datang dengan passport resmi negara. Dan akan sangat tidak memungkinkan untuk ngecek satu-satu aqidah setiap orang yang datang ke tanah suci. Bisa dipastikan, semacam ini tidak mungkin dilakukan.
Sebagai gambaran yang lebih mendekati, dukun termasuk sosok orang kafir yang gentayangan di manapun. Karena mereka mempraktekkan sihir. Dan di indonesia, dukun yang merangkap kiyai sangat banyak. Bahkan sebagian mereka menjadi pembimbing haji, karena punya banyak pengikut. Secara aturan, mereka terlarang masuk masjidil haram. Tapi bagaimana mereka bisa difilter??
Kedua, mengapa pemerintah Saudi tidak membuat pengumuman besar, syiah dilarang berhaji. Sehingga menjadi peringatan bagi mereka untuk tidak masuk masjidil haram.
Barangkali pertanyaan inilah yang lebih mendekati. Mengapa pemerintah Saudi tidak melarang dengan tegas orang syiah untuk tidak berhaji? Padahal mereka sempat bikin onar di makam Baqi’, dengan mencoba membongkar kuburan A’isyah. Anda bisa saksikan tayangan ini:
Anak-anak syiah meneriakkan Labbaika ya Husain… (ganti dari labbaik Allahumma labbaik). Mereka mengambili tanah satu kuburan, yang disangka kuburan A’isyah. Mereka ingin membongkarnya, tapi diusir oleh Askar.
Yang lebih penting, mengapa mereka dibiarkan?
Pembaca yang budiman, anda bisa menilai kebijakan ini.
Pemerintah Saudi memahami bahwa Mekah dan Madinah, bukan semata urusan negara. Tapi urusan kaum muslimin sedunia. Mereka yang berhaji, yang datang ke tanah suci, tidak hanya muslim ahli tauhid, tapi pembela syirik yang mengaku muslim juga sangat banyak. Karena itulah, banyak situs haji yang disalah gunakan oleh pembela kesyirikan, tetap dibiarkan di Saudi. Pemerintah Saudi menggunakan prinsip toleran. Membongkar situs semacam ini, bisa jadi akan membuat banyak kaum muslimin marah, dan menimbulkan kekacauan. Sungguh aneh, ketika ada orang yang menuduh, pemerintah Saudi ingin menghancurkan kuburan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan selengkapnya, bisa anda simak di: Fitnah Arab Saudi akan Menggusur Makam Nabi
Kemudian, sejatinya pemerintah Saudi menerapkan politik yang pernah diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekte syiah adalah sekte sesat. Terutama sekte Syiah Iran, yang mengkafirkan seluruh sahabat dan kaum muslimin. Mereka mayakini Al-Quran tidak otentik dan telah diubah. Bahkan salah satu tokohnya: At-Thibrisy, menulis satu buku untuk membuktikan bahwa Al-Quran yang dipegang kaum muslimin tidak otentik. Buku itu berjudul: فصل الخطاب في تحريف كتاب رب الأرباب [Kalimat pemutus tentang adanya penyimpangan dalam kitab Tuhan]. Dia menyebutkan berbagai sumber syiah untuk meyakinkan umat bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin telah dipalsukan sahabat. (Maha Suci Allah dari tuduhan keji mereka). Sementara itu, mereka memiliki prinsip taqiyah, berbohong untuk mencari aman. Sehingga tidak mungkin bisa ditangkap dengan bukti yang terang.
Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keadaan yang paling mirip dengan mereka adalah orang munafik. Ketika berkumpul bareng kaum muslimin, mereka sok muslim, ikut shalat jamaah, ikut jihad, menampakkan dirinya sebagaimana layaknya muslim. Begitu mereka kumpul dengan sesama munafik, baru mereka menampakkan kotoran hatinya, dan upayanya untuk menghancurkan islam. Allah berfirman tentang mereka,
وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
Mereka orang-orang munafik mengatakan: “(Kewajiban Kami hanyalah) taat”. tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. cukuplah Allah menjadi Pelindung. (QS. An-Nisa: 81)
Kita tidak boleh berpikiran, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu siapa saja orang munafik. Kita tidak boleh berpikir demikian. Karena berarti kita suudzan kepada Allah. Bagian dari penjagaan Allah kepada Nabi-Nya adalah dengan memberikan informasi siapa saja musuh beliau, termasuk musuh dalam selimut, yaitu orang munafik. Allah menurunkan beberapa wahyu dan ayat yang menjelaskan siapa mereka. Ayat semacam ini diisitilah dengan ayat atau surat Fadhihah. (simak Tafsir At-Thabari 14/332, Ibn Katsir 4/171, dan Tafsir Al-Baghawi 4/7)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu siapa saja mereka, dan bahkan ada sahabat yang tahu siapa saja munafik di Madinah. Diantaranya adalah Hudzaifah ibnul Yaman. Beliau diberitahu oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa nama orang munafik di Madinah. Dan karena inilah, Hudzaifah digelari dengan Shohibu sirrin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pemilik rahasia nabi).
Pertanyaan yang mendasar, mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak mengusir orang munafik itu dari Madinah? Mengapa beliau tidak memerangi atau bahkan membiarkan mereka berkeliaran di Madinah?
Umar berkali-kali menawarkan diri untuk membunuh gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melarang beliau dan mengatakan,
دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
“Biarkan dia, jangan sampai manusia berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari 4905, Muslim 2584, Turmudzi 3315, dan yang lainnya).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh mereka, tidak mengusir mereka, dalam rangka menghindari dampak buruk yang lebih parah. Membiarkan mereka di keliaran di Madinah, dampaknya lebih ringan dari pada membantai mereka. Anda tidak boleh mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammembiarkan mereka keluar masuk masjid nabawi, itu bukti bahwa orang munafik BUKAN orang kafir. Kalau mereka bukan orang muslim, kan seharusnya mereka tidak boleh masuk tanah suci Madinah?
Jelas ini adalah kesimpulan 100% salah.
Kebijakan itulah yang ditempuh pemerintah Saudi. Apa yang akan dikatakan muslim seluruh dunia ketika pemerintah Saudi melarang mereka berhaji??
Karena itu, orang syiah iran, syiah itsna ‘asyariyah yang mengklaim bahwa Al-Quran tidak otentik, kehadiran mereka di tanah suci BUKAN dalil bahwa syiah tidak kafir.
Allahu a’lam
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Dakwah Tidak Hanya Dengan Ceramah

(Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3659/slash/0/dakwah-tidak-hanya-dengan-ceramah/)

DAKWAH TIDAK HANYA DENGAN CERAMAH

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim


Allâh Azza wa Jalla telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar kepada seluruh umat manusia. Risalah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa ini akan kekal sampai hari kiamat. Risalah ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla agar menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-Anbiyâ’/21:107]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah Rabbnya dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berjalan di atas manhajnya. Dakwah membimbing umatnya agar beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan berjalan diatas syari’at Allâh Azza wa Jalla adalah misi para Rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Beribadahlah kalian kepada Allâh (saja), dan jauhilah thaghut itu" [an-Nahl/16:36]

Itu pulalah misi yang diembankan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ﴿٤٥﴾ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

Hai nabi ! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allâh dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. [al-Ahzâb/33: 45-46]

Perintah berdakwah dan terus-menerus berdakwah ini diulang beberapa kali dalam al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ

Dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. [al-Hajj/22:67]

Juga firman-Nya :

قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk beribadah kepada Allâh dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali" [ar-Ra’d/13:36]

Misi dakwah yaitu menyampaikan petunjuk Allâh Azza wa Jalla kepada manusia juga merupakan wasiat para Nabi dan Rasul kepada para pengikutnya, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu :

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah untuk bersyahadat (bersaksi ) bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allâh dan bahwasanya Aku (Muhammad) adalah utusan Allâh. [Muttafaq ‘alaih]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan kepada seluruh manusia secara umum untuk melaksanakan misi tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan [Ali Imrân/3:104]
.
Oleh Dan setiap pengikut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah selayaknya untuk mencontoh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajak kepada keimanan dan tauhid serta mengajak untuk mengamalkan syari’at Allâh Azza wa Jalla . Dan hal yang terbaik dalam memanfaatkan umur kita adalah dengan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan beribadah dengan mengikuti petunjuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam berdakwah mengajak manusia kepada agama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan dalam mengerjakan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla serta menolong mereka dalam menlakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat.

BAHAN RENUNGAN
Dari uraian di atas, kita ketahui betapa mulia dan pentingnya dakwah. Namun terkadang, ada kendala dalam melaksanakannya. Berikut ada beberapa hal yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita sehingga terpacu untuk berdakwah sesuai dengan kemampuan kita.

Pertama : Amalan terbaik dan tertinggi di sisi Allâh adalah berusaha untuk membimbing manusia dari kegelapan menuju kepada petunjuk Allâh Azza wa Jalla . Oleh Karen itu, ucapan seorang da’i yang berdakwah dijalan Allâh Azza wa Jalla adalah perkataan terbaik di sisi Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, mengerjakan amal yang shaleh, dan mengatakan, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri" [Fusshilat/41:33]

Setiap amal yang dilakukan oleh orang yang mendapat petunjuk melalui seorang da’i maka si da’i senantiasa mendapat bagian pahala darinya tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya sedikitpun. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya [HR.Muslim]

Juga sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْئًا

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang tersebut. [HR. Muslim]

Apa yang dipetik oleh seorang da’i dari dakwahnya lebih baik daripada perhiasan dunia, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَوَاللهِ لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ

Demi Allâh ! Allâh Azza wa Jalla memberikan petunjuk (hidayah) kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu lebih baik bagimu daripada kamu mendapatkan unta merah (barang yang sangat berharga ). [HR. Bukhari dan Muslim]

Kedua : Kefasihan dan kepandaian mengolah kata-kata bukanlah syarat dalam berdakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla . Nabi Musa Alaihssallam mengalami kesulitan dalam memberi penjelasan kepada umatnya, sehingga beliau Alaihissallam berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla dengan perkataannya :

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي

Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku [Thâha/20:27-28]

Sementara Fir’aun jauh lebih fasih dalam berbicara dibandingkan Musa Alaihissallam, sebagaimana diceritakan oleh Allâh Azza wa Jalla :

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? [az-Zukhruf/43:52]

Meski demikian, kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Musa Alaihissallam untuk menyampaikan risalah Rabbnya, sehingga pengikut Nabi Musa Alaihissallam merupakan ummat terbesar kedua setelah ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sampaikanlah ilmu yang telah kamu miliki ! Adapun kemampuan mengolah kata-kata, maka sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah rasa malumu menjadi penghalang untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. [al-Mu’minûn/23:62])

Ketiga : Diantara tanda kasih sayang Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya adalah cara berdakwah di jalan Allâh itu tidak hanya terbatas pada pemberian nasehat di atas mimbar atau pada perayaan-perayaan tertentu saja. Seseorang yang mengingkari perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain secara sembunyi atau rahasia itu termasuk dakwah. Orang tua yang menasehati anaknya juga dakwah yang bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Membiayai suatu amal kebaikan serta mendukung orang lain untuk berdakwah adalah dakwah juga. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat dengan berbagai latar belakang professinya adalah kader-kader da’i yang mendakwahi manusia ke jalan Allâh, baik dengan harta, pena maupun dengan lisan.

Empat : Dalam mendakwahi keluarga, orang-orang di sekitarmu dan para hamba Allâh seluruhnya hendaklah kita menempuh cara yang pernah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam berdakwah. Awal dakwah mereka adalah dakwah menuju aqidah yang lurus. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya , “Tidak ada ilah (yang haq) kecuali Aku, oleh karena itu beribadahlah kalian kepada-Ku". [al-Anbiyâ’/21:25]

Berdakwahlah kepada orang lain dengan cara yang sesuai dengan aturan-aturan syari’at. Janganlah kamu nodai dakwahmu dengan perbuatan maksiat, sekalipun terbayang dalam benakmu bahwa perbuatan maksiat itu bisa menarik perhatian banyak orang. Karena agama ini adalah agama yang agung yang tertolong dengan pertolongan Allâh Azza wa Jalla . Janganlah kamu bersikap pura-pura menyetujui perbuatan maksiat orang yang kamu dakwahi saat berdakwah, karena itu adalah yang diinginkan oleh sebagian pelaku maksiat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” [al-Qalam/68:9]

Kaum Muslimin wajib untuk selalu bahu-membahu dan tolong-menolong serta menghindari perpecahan dan perselisihan. Karena perpecahan dan perselisihan hanya melahirkan kedengkian dan permusuhan, sementara musuh-musuh Islam tertawa gembira. Di mata non-muslim, kaum Muslimin adalah gambaran nyata agama Islam itu sendiri. Prilaku kaum Muslimin bisa menjadi daya tarik minat orang untuk memeluk Islam atau sebaliknya, membuat lari dan benci terhadap Islam. Karena orang yang kita dakwahi tentu tidak mau memeluk agama yang berisi kebencian, permusuhan, perpecahan serta merusak akal. Oleh karena itu, hendaknya kaum Muslimin bersatu dalam aqidah Islam yang benar yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunah. Itulah sumber kebaikan dan kebahagiaan, sementara perpecahan dan perselisihan adalah pangkal kekalahan dan awal kehinaan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا

Dan taatlah kepada Allâh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. [al-Anfâl/8:46]

Kelima : Telah berlaku sunatullah bahwa pelaku maksiat itu lebih banyak jumlahnya dibanding orang-orang yang taat, sebagaimana firman-Nya :

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang Fasik [al-Mâidah/5:49]

Juga firman-Nya :

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman [Hûd/11:17]

Juga dalam Surat al-An’âm/6:116 :

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh

Oleh karena itu, janganlah kita pesimis dalam mendakwahi manusia kepada petunjuk (hidayah), meskipun banyak yang berpaling dari petunjuk tersebut. Janganlah berputus-asa dalam menempuh jalan dakwahmu, meskipun kebathilan itu bertambah kuat. Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah berkata, ”Janganlah kalian tertipu oleh kebathilan walaupun banyak orang yang celaka karenanya, dan janganlah takut memilih jalan kebenaran walaupun sedikit yang menempuhnya.”

Tegarlah diatas kebenaran karena kamu berada pada jalan yang lurus. Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Engkau adalah umat, walaupun kamu seorang diri.”

Keenam : Jangan kamu lihat keberhasilan dakwahmu dengan banyaknya pengikutmu, karena terbukanya hati seseorang adalah perkara yang ghaib, sementara usahamu hanya sebatas menyampaikan penjelasan dan berdakwah. Tugasmu bukan untuk memberi hidayah dan membuka hati. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan [al-Mâidah/5:99]

Tugasmu hanyalah menjelaskan dan Rabblah yang memberi petunjuk :

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ

Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allâh-lah yang melempar [al-Anfâl/8:17]

Betapapun usaha Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengislamkan pamannya Abu Thalib, akan tetapi keinginannya tidak tercapai. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya [al-Qashash/28:56]

Dan diantara para Nabi-Nabi ada yang bersungguh-sungguh dalam mendakwahi kaumnya selama bertahun-tahun, namun mereka tidak mendapat respon. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat yang terdahulu , maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang pengikutnya , dan seorang Nabi bersama seorang dan dua orang pengikutnya , dan ada Nabi yang sama sekali tidak punya pengikut [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Bekalilah dirimu dengan ilmu dan tempuhlah dengan jalan hikmah dan peringatan yang baik dalam menjalankan misi dakwahmu !

Ketujuh : Janganlah engkau merasa berat untuk berdakwah di segala waktu dan kondisi. Terkadang, satu ucapan akan mendatangkan kebahagiaan bagimu sepanjang masa. Lihat, Nabi Nuh Alaihissallam menyeru umatnya siang dan malam, baik secara sembunyi–sembunyi dan terang-terangan. Nabi Yusuf Alaihissallam meskipun berada dalam penjara, beliau menyeru kepada tauhid. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allâh yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” [Yûsuf/12:39]

Orang yang telah memperoleh cahaya hidayah berkewajiban untuk membimbing orang lain dengan cahaya hidayahnya. Hendaklah para ayah menjadi seorang da’i di rumahnya dengan memperbaiki keluarga !Dan hendaklah para istri menunaikan kewajibannya dalam mendidik anak-anak ! Ciptakanlah suasana kondusif yang mendukung untuk senantiasa taat kepada Allâh Azza wa Jalla ! Jauhkanlah mereka dari segala yang mengundang murka Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيْحَةٍ , إِلاَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seorang hamba yang diberi tanggung jawab kepemimpinan, kemudian dia tidak pernah memeliharanya dengan nasehat, kecuali diharamkan bagi masuk surga. [Muttafaq ‘alaih]

Kedelapan: Di antara tanda kejujuran dan kesungguhan seorang da’i adalah ia mendo’akan hidayah bagi orang yang didakwahinya tanpa sepengetahuan orang tersebut. Betapa banyak doa-doa yang dipanjatkan di akhir malam menjadi penyebab berubahnya keadaan kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, perbanyaklah do’a buat mereka yang masih bergelimang dengan dosa maksiat Supaya mendapat hidayah !

al-Muzâni rahimahullah berkata, “Tidaklah Abu Bakar Radhiyallahu anhu itu lebih unggul daripada Sahabat-Sahabat Rasûlullâh yang lain dengan sebab shalat dan puasanya. Namun beliau Radhiyallahu anhu unggul dengan sebab apa yang ada dalam hatinya. Dalam hati beliau Radhiyallahu anhu ada rasa cinta kepada Allâh dan suka memberi nasehat kepada orang lain.”

Kesembilan : Perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain dapat menarik simpati hati orang lain kepada kita, demikian perkataan serta akhlak yang baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang da’i yang tercermin dalam akhlak dan pergaulannya. Dahulu ada seorang pemuda yahudi yang menjadi pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada suatu hari, dia sakit, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya, seraya berkata, yang artinya, “Masuk Islamlah kamu !’ Si pemuda tadi menoleh ke ayahnya. (Melihatnya) sang ayahnya berkata, “Taatilah Abul Qâsim (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) ! Lalu pemuda tersebut masuk Islam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamkeluar dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allâh) Yang telah menyelamatkannya dari api neraka .” [HR. al-Bukhari]

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berusaha maksimal dalam memenuhi kebutuhan kaum Muslimin.”

Sejarah membuktikan telah banyak daerah yang ditaklukkan dengan perkataan dan perlakuan yang baik .

Kesepuluh : Ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan cahaya yang terpancar dalam dada yang dapat menggerakkan hati untuk menyambut panggilan dakwah. Oleh karena itu, wahai para da’i, perbanyaklah beribadah dan merendahkan diri di hadapan Allâh Azza wa Jalla . Sebab, hal tersebut akan menjadi sarana pertolongan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan hendaknya para da’i memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an serta shalat malam. Jika hati itu bersih, maka akan memancarkan pengaruh yang baik, dan sebaliknya apabila hati itu kotor, maka akan mendatangkan pengaruh yang buruk. Dukunglah do’amu dengan merendahkan diri di hadapan Allâh Azza wa Jalla supaya apa yang kamu lakukan diberkahi oleh Allâh Azza wa Jalla .

Semoga Allâh Azza wa Jalla meluruskan langkahmu dan janganlah kamu hanya bersandar pada sebab-sebab (usaha-usaha) yang nampak saja , dan perbanyaklah memuji Allâh Azza wa Jalla yang telah memilihmu dari sekian banyak manusia untuk menegakkan dakwah para rasul ini , dan menjadikanmu sebagai kunci hidayah bagi makhluk-Nya, sedangkan orang lain tidak bisa sepertimu.

(Diangkat dari al-Khuthabul Minbariyyah, Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah, Imam dan Khatib Masjid Nabawi Madinah, hlm. 146-151)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Tuesday, April 9, 2013

Pokok2 Akidah Syi'ah

http://muslim.or.id/manhaj/pokok-pokok-akidah-syi%E2%80%99ah.html

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Zat Yang Maha Sempurna nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Saudaraku, sesungguhnya jalan kebenaran sangatlah jelas, begitu pula jalan kesesatan begitu gamblangnya. Semuanya telah ditunjukkan oleh Allah Ta’ala dan diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sejelas-jelasnya. Maka barangsiapa yang mengambil petunjuk dari Allah dan rasul-Nya dia akan meniti jalan kebenaran, sedangkan yang meninggalkannya akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Di antara kelompok yang jauh menyimpang dari ajaran Allah dan rasul-Nya adalah ajaran Syi’ah. Walaupun mereka mengaku Islam, namun hakekatnya mereka bukanlah Islam. Kita akan lihat bagaimana akidah dan keyakinan Syi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka sehingga kita bisa menilai siapa mereka sesungguhnya.


Akidah Syi’ah Tentang Nama dan Sifat Allah

Di antara akidah Syi’ah tentang nama dan sifat Allah adalah :
  1. Syi’ah menafikan (meniadakan) sifat nuzul (turun-Nya Allah) bagi Allah ke langit dunia dan menghukumi kafir bagi yang menetapkan hal tersebut. (Ushuulul Kaafi 1/103).
  2. Syi’ah menyifati imam-imam mereka dengan sifat-sifat Allah  dan menamai mereka dengan nama-nama Allah Ta’ala. (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/103)
Akidah Syi’ah Tentang Tauhid

Di antara akidah Syi’ah berkenaan dengan tauhid adalah :
  1. Syi’ah meyakini bahwa planet-planet dan bintang-bintang mereka memiliki pengaruh bagi kebahagaiaan dan kesengsaraan serta nasib masuk surga dan neraka (Ar Raudhatu minal Kaafi 8/2103)
  2. Syi’ah meyakini bahwasanya syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah harus disertai dengan persaksian bahwa Ali adalah wali Allah. Merka senantiasa mengulang-ulangnya dalam adzan mereka dan setiap setelah selesai shalat dan ketika mentalkin orang yang sudah meninggal. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/82)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Allah  mengutus Jibril untuk membawa wahyu kepada Ali, namun Jibril keliru memberikan wahyu kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam (Kitab Al Maniyatu wal Amal fii Syarhil Milal Wan Nahl 30)
Akidah Syi’ah Tentang Al Qur’an

Di antara akidah Syi’ah tentang Al Qur’an adalah :
  1. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang sekarang ada bukanlah Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shalllahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sudah diganti, diberi tambahan, dan dikurangi. Muhaddits Syi’ah meyakini bahwa sudah ada perubahan dalam Al Qur’an sebagaimana disebutkan oleh An Nauri At Tabrasi dalam kitab Faslul Khitab fii Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab.
  2. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’anul Karim ada yang kurang dan Al Qur’an yang sesungguhnya naik ke langit ketika para sahabat  murtad. (Kitab At Tanbih war Radd  25)
Akidah Syi’ah Tentang Ali dan Ahlul Bait

Di antara akidah Syi’ah tentang Ali dan Ahlul Bait adalah :
  1. Menurut Syi’ah bahwa yang pertama kali akan ditanyalan pada mayit di kuburnya adalah tentang kecintaan terhadap Ahlul Bait (Kitab Baharul Anwar 27/79).
  2. Syi’ah mengatakan bahwa Ali dapat menghidupkan mayit (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/90-91)
  3. Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa debu dan lumpur di kubur Al Husain adalah obat untuk segala penyakit (Kitab Al Amaliy 318)
Akidah Syiah Tentang Sahabat Nabi

Di antara akidah Syi’ah tentang sahabat Nabi adalah :
  1. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa yang melaknat Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Aisyah, Hafsah radhiyallahu ‘anhum setiap selesai shalat maka dia sungguh telah mendekatkan diri kepada Allah dengan pendekatan diri yang paling utama. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/224)
  2. Syi’ah meyakini bahwa seluruh manusia murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali empat orang : Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad bin Aswad, dan ‘Ammar bin Yasir  (Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk menyembah berhala, dan iman beliau seperti imannya orang Yahudi dan Nasrani. Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara berhala tergantung di lehernya dan Abu Bakar sujud kepadanya. (Lihat Baharul Anwar 25/172)
  4. Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar keduanya telah kafir.. dan orang yang mencintai keduanya maka dia juga kafir. (Haqqul Yaqin 522)
  5. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Utsaman bin Affan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  termasuk orang yang secara lahir menampakkan Islam  namun menyembunyikan sifat munafik. (Kitab Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  6. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa berlepas diri dan meolak tiga khalifah -yakni Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman- dalam setiap malam, apabila dia mati di malam tersebut maka dia masuk surga (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi)
Akidah Syi’ah Tentang Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  1. Syi’ah meyakini bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti ‘Umar kafir (Kitab Tafsir Al Qumi 597)
  2. Syi’ah meyakini bahwa salah satu pintu neraka adalah untuk ‘Asiyah radhiyallahu ‘anha (Lihat Tafsir Al ‘Ayasyi 2/362)
  3. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Aisyah adalah wanita pezina (Lihat Kitab ‘Ilalul Syaraa-i’ 2:565 dan  Haqqul Yaqin 347)
Akidah Syi’ah Tentang Imam-Imam Mereka

Di antara akidah Syi’ah tentang imam-imam mereka adalah :
  1. Syi’ah menyakini bahwa imam-imam mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya (Kitab Baharul Anwar 23/5-99)
  2. Syi’ah tidak membedakan antara Allah dan imam-imam mereka (Lihat Mashabihul Anwar 2/397)
  3. Syi;ah meyakini bahwa imam-imam mereka tidaklah berbicara keculai berdasarkan wahyu (Kitab Baharul Anwar 17/155)
  4. Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para nabi dan malaikat (Al Hukumah Al Islamiyah 52)
  5. Syi’ah meyakini bahwa perhitungan amal seluruh makhluk pada hari kiamat adalah kepada imam mereka (Kitab Al Fushuul Muhimmah fii Ushuulil Aimmah 1:446)
  6. Syi’ah meyakini bahwa menziarahi kuburan para imam dan wali mereka merupakan suatu kewajiban dan kafir bagi yang meninggalkannya ( Kitab Kamaluz Ziyaarat 183)
Akidah Taqiyyah

Yang dimaksud taqiyyah menurut ulama Syi’ah adalah adalah
(( التقية أن تقول أو تفعل غير ما تعتقد، لتدفع الضرر عن نفسك أو مالك او لتحفظ بكرامتك))
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini, untuk menghindari mudharat yang mengancam jiwa dan hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.
Di antara akidah Syi’ah tentang taqiyyah adalah :
  1. Mereka mengatakan : “ Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah” (Syarhu ‘Aqaaids Shudduuq 261)
  2. Menurut Syi’ah, barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah seperti meninggalkan shalat dan meninggalkannya termasuk dosa besar.. Mereka bermualah bersama kita dan melaksanakan sunnah dengan taqiyyah. Bahkan mereka mengatakan : “ Barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah maka dia kafir dari agama Allah. (Kitab Man Laa Yahdharahul Faqiih)
  3. Disebutkan dalam kitab Ushuulul Kaafi dari Abu ‘Abdillah, dia mengatakan : “Ber-taqiyyah-lah dalam agama kalian, dan berhujjahlah dengan taqiyyah, sesungguhnya tidak ada iman bagi yang tidak ber-taqiyyah
Yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja dari kesesatan akidah – akidah Syi’ah. Masih banyak akidah-akidah lainnya yang menyimpang dari ajaran Islam

Komentar Para Ulama Tentang Syi’ah

Untuk lebih menunjukkan kesesatan Syi’ah, berikut kami nukilkan beberapa komentar para ulama besar tentang ajaran Syi’ah.
قال شيخ الاسلام ابن تيمية – رحمه الله رحمة واسعة – : (( وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والاسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف، والكذب فيهم قديم، ولهذا كان أئمة الاسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب ))
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ahli ilmu telah sepakat bahwa Syi’ah Rafidhah merupakan kelompok paling pendusta, dan kedustaan mereka sudah lama dan usang. Oleh karena itu para ulama Islam mengetahui kekhususan mereka dengan banyaknya kedustaan yang ada pada mereka”.
(( سئل مالك – رحمه الله – عن الرافضة فقال : لاتكلمهم ولا تروي عنهم فإنهم يكذبون. ))
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang Rafidhah, beliau mengatakan : “ Jangan berbicara dengan mereka, jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka adalah pendusta”.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah :
محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوارة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطئه فئازره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)” (Al Fath:29)
(( ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك – رحمة الله عليه – في رواية عنه بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة – رضوان الله عليهم – قال : لأنهم يغيظونهم ومن غاظ الصحابة – رضي الله عنهم – فهو كافر لهذه الآية )).
Beliau rahimahullah mengatakan : “Berdasarkan ayat ini Imam Malik mengkafirkan Rafidhah yang membenci para sahabat . Karena mereka tidak suka kepada para sahabat. Barang siapa yang tidak suka (benci) kepada sahabat, maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini.
وقال أبو حاتم : (( حدثنا حرملة قال : سمعت الشافعي – رحمه الله – يقول لم أرَ أحداً أشهد بالزور من الرافضة )).
Abu Hatim mengatakan : “ Telah menceritakan kepadaku Harmalah, dia berkata : “Aku mendengar Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan” : “ Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih parah kejelekannya daripada Syi’ah Rafidhah”
Setelah menyimak pembahasan di atas, silakan para pembaca menilai sendiri. Berdasarkan akidah-akidah yang ada pada mereka, jelas menunjukkan kesesatan mereka. Begitu jauhnya mereka dari ajaran agama Islam. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus dan senantiasa memberi taufiq agar kita istiqamah di atasnya.
Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Sumber :
‘Aqaaid Asy Syi’ah bi Ikhtisar min Kutubihim oleh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Atibi  di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=176551
Min ‘Aqaaid Asy Syi’ah karya Abdullah bin Muhammad As Salafi
Penulis: Adika Mianoki
Artikel Muslim.Or.Id