Wednesday, January 9, 2013

Cerita Faktual Akhi Gugus Gustian

*Mamoadi*

Inilah cerita faktual dari Al Akh Gugus Gustian :

"Ana izin bercerita sedikit, waktu itu malam hari, ana lupa tepatnya kapan, seperti hari biasa, ana menjaga toko buku dan herbal yg bertempat di jantung ibukota…

Semakin malam, pembeli semakin sepi, lantas datang seorang bapak berpakaian rapih, beliau menanyakan kepada kami (penjaga toko) mengenai kitab Syarah Riyadhus Sholihin yg di bahas di Rodja oleh Ust Badrusalam, ana kasih pilihan, beliau mau yg di syarah oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilaly atau yg di syarah oleh Syaikh Utsaimin -rahimahullah-

Dia lupa, seketika itu juga dia mengambil HP-nya, dan berkata “Sebentar ana telpon Ust. Badru dulu (kurang lebihnya seperti ini perkataan dia, ana lupa tepatnya)”, langsung dia telpon dan terhubung dan berbicara ke Ust. Badru, singkatnya Ust. Badru memberi pernyataan kalau yg ia bahas itu ialah yg di syarah oleh Syaikh Aalim bin Ied Al Hilaly.

Ya sudah, ana ambilkan kitab tersebut yg ia pesan, ana penasaran, bagaimana ia bisa memiliki nomer telpon Ust. Badru, dan punya akses ke beliau langsung

Setelah ana tanyakan siapa bapak tersebut dan apa pekerjaannya, bagaimana bisa dia seoerti itu, dia menjawab dan sambil bercerita..

“Saya anggota kepolisian di bidang reserse dan intelejen, waktu Syaikh Abdurrazaq datang ke Indonesia yg dulu, saya yg mengawal langung beliau –hafidzahullah-, saya bertanya ke pada Syaikh (dan ada bersama saya ust. Badrusalam sebagai penerjemah) :  "Syaikh apakah boleh jika pemerintah membuat hukum yg tidak ada di dalam al Qur’an dan Sunnah?, seperti lampu merah, menggunakan helm dll?",

lalu Syaikh menjawab:

“Boleh jika pemerintah tidak menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, seperti jika pemerintah memerintahkan untuk berhenti saat lampu merah, maka hal itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat, karena jika tidak ada, maka akan bisa menyebaban kecelakaan, dan seperti halnya helm, jika pemerintah tidak memerintahkan untuk tidak memakai helm, maka ini pun akan memudharatkan masyarakatnya, namun ketika pemertintah memberi peraturan yg dapat menggadaikan aqidah kita, seperti mewajibkan merayakan hari raya selain umat islam, maka tidak boleh di ikuti dan jangan dituruti”,

(bapak polisi tadi juga bercerita) :
"Saat saya mau salaman lantas mencium tangan Syaikh, Syaikh dengan cepat menarik tangannya agar tidak dicium oleh saya, saya bertanya ke ust. Badru, mengapa ko syeikh seperti itu, ust. Badru berkata, Syaikh ingin dihormati seperti manusia lainnya, tidak berlebihan, karena Nabi saja tidak ingin dihormati secara berlebihan oleh para sahabatnya".

Pak polisi tadi bilang, beda sama ulama atau kiai di Indonesia, mereka malah menyodorkan tangan ke jama’ahnya untuk menyiumnya.. (ana dan dia juga lainnya sambil tertawa kecil saat pak polisi itu bercerita hal tersebut)

>> subhanallah!! Wal hamdulillah… begitu arif dan bijaksananya dakwah yg haq ini, ana sampai kaget, karena dia adalah anggota reserse dan intelejen, subhanallah… ini menjadi pukulan keras bagi mereka yg mengganggap dakwah ini adalah WAHABI dan menganggap dakwah ini dengan sebutan TERORRIS,

Pak polisi tadi juga ternyata punya nomer telpon ust. Firanda dan ust. Zainal, dan mungkin punya akses langsung juga ke mereka, subhanallah…

Semoga Allah memudahkan dakwah ini masuk keseluruh pelosok di negeri yg kita cintai ini..

Sekian, pengalaman yg ana ingat, ana memohon ampun kepada Allah bila apa yg ana tuliskan ini memiliki kesalahan, karena mengingat hafalan ana yg kurang baik, ana pun lupa nama bapak polisi tadi, namun ia sempat memberi kartu nama, yg ia berikan ke bos kami, dan ia berkata, "kalau bapak (bos kami) memiliki kesulitan dalam hukum Negara, bapak bisa telpon ke saya.."

[diposting ulang dari pengalaman Akh Gugus Gustian]

http://www.facebook.com/profile.php?id=1521315588]

Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment